NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kawasan pesisir Banda Aceh selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi penting bagi burung migran yang melintasi jalur migrasi East Asia-Australasian Flyway (EAAF), salah satu jalur terbang burung terbesar dan terpenting di dunia. Namun, penyusutan kawasan mangrove dalam beberapa tahun terakhir mulai mengancam keberadaan berbagai spesies burung yang bergantung pada wilayah tersebut sebagai tempat singgah dan mencari makan.
Mengutip Mongabay Indonesia, di pesisir Pantai Lampulo, sejumlah burung migran seperti biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) dan trinil kaki merah (Tringa totanus) masih dapat dijumpai mencari makan di kawasan tambak berlumpur. Namun, ruang hidup mereka semakin terbatas seiring berkurangnya luasan hutan mangrove di pesisir Kota Banda Aceh.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, luas hutan mangrove pada 2025 tercatat tinggal 486,37 hektare. Angka tersebut menunjukkan penyusutan sekitar 125 hektare dibandingkan kondisi tahun 2014.
Penurunan luas mangrove ini turut berdampak terhadap populasi burung migran yang singgah di kawasan pesisir. Heri Tarmizi dari Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) mengatakan, pesisir Banda Aceh merupakan salah satu tujuan akhir migrasi bagi burung-burung yang datang dari wilayah pembiakan di Siberia dan Asia Utara untuk menghindari musim dingin.
“Ketika mangrove tergerus, mereka tidak akan singgah lagi ke pesisir Banda Aceh karena tidak ada sumber makanan. Dampaknya bukan hanya kehilangan, burung-burung ini juga menjaga keasrian alam dengan perannya dan bunyi-bunyiannya. Jika tidak ada lagi, maka Kota Banda Aceh akan seperti kota mati,” katanya April lalu.
Penelitian Mira dan tim pada 2020 mencatat luas mangrove di pesisir Banda Aceh menyusut hingga 52,13 persen dalam kurun 2004–2009, dari 600 hektare menjadi 287,19 hektare. Salah satu penyebab utama penyusutan tersebut adalah alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman.
Kawasan mangrove di Banda Aceh tersebar di lima kecamatan, yakni Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala. Perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi di Kecamatan Syiah Kuala dengan kehilangan sekitar 50 hektare mangrove, disusul Kuta Raja 28 hektare, Jaya Baru 22 hektare, dan Meuraxa 22 hektare.
Menurut data KSLH, sedikitnya terdapat 17 spesies burung migran yang pernah singgah di kawasan mangrove Lampulo untuk mencari makan, beristirahat, dan melakukan persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan migrasi. Beberapa di antaranya adalah biru laut ekor blorok yang dikenal mampu terbang tanpa henti hingga 13.560 kilometer dari Alaska, trinil pembalik batu (Arenaria interpres), trinil kaki merah (Tringa totanus), berbagai jenis cerek, gajahan, serta kicuit kerbau.
Namun, sejak dilakukan penimbunan kawasan untuk pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo pada 2012, kondisi habitat burung mengalami perubahan signifikan. Heri menyebutkan, setelah pembangunan tersebut terdapat lima spesies yang tidak lagi ditemukan di kawasan itu, yakni kedidi kecil (Calidris minuta), kedidi leher merah (Calidris ruficollis), kedidi putih (Calidris alba), trinil kaki hijau (Tringa nebularia), dan trinil semak (Tringa glareola).
Hasil pengamatan pada Februari 2025 menunjukkan hanya empat spesies yang masih terlihat, yaitu trinil kaki merah, cerek krenyut, cerek pasir tibet, dan trinil pembalik batu.
“Itu yang masih dijumpai, tetapi jumlahnya tidak banyak lagi. Kalau dulu kita bisa menemukan hingga 2.000-an ekor. Hari ini hanya mencapai kurang dari 100 ekor,” katanya.
Penelitian Khairunisak dan tim yang dilakukan pada Februari hingga April 2024 juga mencatat keberadaan 433 individu burung pantai migran di sejumlah kawasan pesisir Banda Aceh, antara lain Gampong Pande, Lampulo, Lambaro Skep, dan Alue Naga.
Dalam penelitian tersebut, jenis yang paling banyak ditemukan adalah cerek pasir besar (Charadrius leschenaultii) sebanyak 183 individu, diikuti cerek pasir siberia (Charadrius mongolus) 154 individu, cerek emas pasifik (Pluvialis fulva) 45 individu, kedidi leher merah (Calidris ruficollis) 26 individu, gajahan eurasia (Numenius arquata) 16 individu, dan trinil pantai (Actitis hypoleucos) sembilan individu.
Selain menjadi habitat penting bagi burung migran, mangrove juga berfungsi sebagai tempat hidup berbagai jenis burung menetap, termasuk kelompok burung kuntul dari famili Ardeidae. Terdapat tiga jenis kuntul yang umum ditemukan, yakni kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul besar (Ardea alba), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).
Heri menilai keberadaan burung-burung tersebut juga semakin terancam akibat degradasi mangrove yang terus berlangsung. Ia mengungkapkan bahwa saat penimbunan awal untuk pembangunan TPI Lampulo pada 2012, koloni burung kuntul sempat menghilang dari kawasan tersebut karena tingginya aktivitas manusia dan kemudian berpindah ke kawasan Alue Naga.
“Saat ini, mereka kehilangan rumah. Sekitar tahun 2012 saat terjadi penimbunan awal TPI Lampulo, mereka sempat hilang dari sana karena aktivitas manusia yang tinggi. Saya sempat cari-cari dan ternyata mereka pindah ke Alue Naga,” katanya.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News
Sumber: Disadur dari laporan Nurul Hasanah, “Burung Migran di Pesisir Banda Aceh Perlahan Hilang”, Mongabay Indonesia, 19 Mei 2026.

