NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Aktivis pariwisata Aceh, Tonicko Anggara, melontarkan kritik terhadap kinerja Kepala Dinas Pariwisata Aceh Selatan, Muchsin. Ia bahkan mendesak Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan dinas tersebut.
Tonicko, yang juga menjabat sebagai Koordinator Wilayah Aceh BAKORNAS LEPPAMI PB HMI, menilai pengelolaan sektor pariwisata di Aceh Selatan selama ini terlalu berorientasi pada pencapaian seremonial, namun minim dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Contohnya, Aceh Selatan berkali-kali meraih prestasi pada ajang Anugerah Pesona Indonesia Award. Seharusnya kemenangan itu menjadi katalisator untuk meningkatkan mutu pariwisata daerah, memperkuat branding destinasi, dan mendatangkan manfaat ekonomi. Tapi yang terjadi, kemenangan-kemenangan itu berlalu begitu saja tanpa tindak lanjut yang jelas,” ujar Tonicko kepada redaksi Nukilan.id pada Selasa (12/5/2026)
Menurutnya, pola yang sama terus berulang dari tahun ke tahun. Prestasi di level nasional hanya menjadi kebanggaan sesaat, tanpa dibarengi program lanjutan yang mampu mengubah potensi wisata menjadi kekuatan ekonomi daerah.
“Kami menilai pola seperti ini jauh dari visi Bupati Aceh Selatan yang ingin menghadirkan daerah yang maju dan produktif. Bagaimana bisa disebut produktif jika sektor pariwisata hanya dikelola secara seremonial dan tidak melahirkan dampak ekonomi bagi masyarakat?” katanya.
Tonicko menegaskan, selama orientasi pembangunan pariwisata hanya mengejar penghargaan, festival, atau kegiatan seremonial tanpa roadmap keberlanjutan, maka sektor tersebut tidak akan pernah menjadi penggerak ekonomi lokal.
“Kalau hanya sebatas acara, sebatas juara, tanpa keberlanjutan, maka tidak akan ada multiplier effect. Tidak ada perputaran ekonomi, tidak ada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Itu artinya ada kegagalan dalam menerjemahkan makna ‘produktif’ yang menjadi visi kepala daerah,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa komitmen produktivitas sektor pariwisata sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan langsung oleh Bupati Mirwan MS, termasuk saat menyambut kunjungan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Komisi VII, Teuku Zulkarnaini atau yang akrab disapa Ampon Bang, beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan itu, Mirwan menyambut baik usulan Ampon Bang terkait Aceh Selatan akan menjadi lokasi pelaksanaan Kharisma Event Nusantara 2027 di Provinsi Aceh. Mirwan sekaligus menegaskan keinginannya menghadirkan kearifan lokal dan budaya daerah sebagai instrumen penggerak ekonomi masyarakat.
Namun menurut Tonicko, capaian-capaian yang bersifat simbolik memang patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya membangun citra daerah. Namun, ia menilai keberhasilan tersebut tidak boleh menutup mata terhadap sejumlah pekerjaan rumah mendasar yang hingga kini masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah, khususnya sektor pariwisata.
“Banyak persoalan fundamental yang seharusnya lebih dulu dibereskan oleh dinas. Mulai dari tata kelola destinasi, penguatan SDM, konektivitas promosi, hingga keberlanjutan program. Jangan justru terlalu sibuk mengejar target-target seremonial,” pungkasnya.
Ia menegaskan, ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak semata ditentukan oleh penghargaan atau capaian kompetisi, melainkan sejauh mana program yang dijalankan mampu memberi dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan produktivitas sektor pariwisata dalam jangka panjang.
“Juara itu bagus, tapi kalau tidak ada keberlanjutan dan kadisnya masih dengan pola yang sama, maka produktivitas daerah tidak akan pernah tercapai,” tutupnya. (xrq)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

