Pengamat Sebut Ekonomi Kerakyatan Berpeluang Jadi Penopang Utama Perekonomian Aceh

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketidakpastian ekonomi global yang kian menguat, ditambah tekanan perubahan iklim, mulai dirasakan hingga ke daerah. Di Aceh, situasi ini semakin kompleks setelah bencana yang melanda pada akhir 2025 lalu, yang turut mengguncang sendi-sendi ekonomi masyarakat.

Kondisi tersebut mendorong kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi kerakyatan—sektor yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan masyarakat Aceh.

Menjawab hal itu, Pengamat Ekonomi Kerakyatan dari Aceh Strategy Advisory (ASA), Uqra Fhalin Fharabi M.E, menilai bahwa secara fundamental, ekonomi rakyat di Aceh masih memiliki daya tahan.

Uqra mengatakan bahwa Ekonomi kerakyatan di Aceh pada dasarnya memiliki fondasi yang cukup kuat karena ditopang oleh sektor riil seperti pertanian, perikanan, dan usaha mikro.

“Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa tekanan global, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga disrupsi rantai pasok, ditambah dengan dampak perubahan iklim, telah meningkatkan tingkat kerentanan sektor ini,” ungkap Uqra pada Jumat (17/4/2026)

Ia menekankan bahwa tekanan tersebut bukan sekadar tantangan jangka pendek, melainkan sinyal perlunya perubahan mendasar dalam cara ekonomi kerakyatan dijalankan.

“Ke depan, prospeknya tetap positif, tetapi dengan catatan harus ada transformasi. Ekonomi kerakyatan tidak bisa lagi berjalan secara konvensional,” jelasnya.

Menurutnya, transformasi yang dimaksud bukan hanya pada cara produksi, tetapi juga pada pola pikir dan pendekatan pembangunan ekonomi yang lebih modern dan berkelanjutan.

Uqra berujar bahwa ekonomi harus didorong berbasis produktivitas, adaptif terhadap iklim, dan terintegrasi dengan teknologi.

“Misalnya, petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga bagian dari rantai nilai yang lebih luas. Jika transformasi ini berhasil, ekonomi kerakyatan justru bisa menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi Aceh di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa di tengah tekanan yang ada, ekonomi kerakyatan tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki peluang untuk tumbuh lebih kuat—selama mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan tantangan global. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img

Read more

Local News