Zulkaidah, Bulan yang Sering Terlewat Namun Sarat Kemuliaan

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Usai berakhirnya Ramadan dan Syawal 1447 Hijriah, umat Islam kini memasuki bulan Zulkaidah. Di tengah suasana yang mulai kembali normal setelah euforia ibadah sebelumnya, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: keutamaan bulan Zulkaidah itu sendiri.

Hal ini disampaikan oleh Ustaz Miswal dalam wawancara bersama Nukilan.id. Ia menjelaskan Zulkaidah sering tidak mendapat perhatian yang layak, padahal memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam.

“Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 36, yang artinya ‘Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu’,” kata Ustaz Miswal pada Selasa (21/4/2026).

Ayat tersebut, lanjutnya, menjadi dasar penting dalam memahami posisi bulan-bulan tertentu dalam kalender Hijriah. Tidak semua bulan memiliki derajat yang sama, dan dalam konteks ini, Zulkaidah termasuk dalam kelompok bulan yang dimuliakan.

“Empat bulan haram dalam Islam adalah Zulkaidah, Zulhijjah, Muharam, dan Rajab. Disebut bulan haram karena mengandung kehormatan,” katanya.

Penegasan ini menunjukkan bahwa istilah “haram” bukan semata bermakna larangan, melainkan juga mengandung nilai kesucian dan penghormatan yang tinggi. Dalam kerangka itu, umat Islam dituntut untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak.

“Dalam ayat tersebut Allah menegaskan, ‘maka janganlah kalian menzalimi diri kalian di dalamnya’. Artinya, dosa yang dilakukan pada bulan-bulan ini lebih berat, sementara amal kebaikan juga lebih agung,” ungkapnya.

Dengan demikian, Zulkaidah bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga momentum spiritual yang menuntut kesadaran lebih dalam. Setiap perbuatan, baik maupun buruk, memiliki konsekuensi yang lebih besar dibandingkan bulan lainnya.

Selain aspek spiritual, Ustaz Miswal juga menyinggung dimensi historis yang memperkuat kemuliaan bulan-bulan haram ini, bahkan sejak masa sebelum Islam datang.

“Pada bangsa Arab dahulu, bulan-bulan haram ini juga dijaga dari peperangan. Tidak diperbolehkan berperang kecuali dalam kondisi tertentu. Hal ini menunjukkan betapa besar kehormatan bulan tersebut,” pungkasnya.

Tradisi tersebut kemudian diperkuat dalam Islam, menjadikan bulan-bulan haram sebagai periode yang dijaga dari konflik dan diisi dengan peningkatan kualitas ibadah.

Di tengah arus kehidupan modern yang kerap melalaikan dimensi waktu dalam perspektif spiritual, Zulkaidah hadir sebagai pengingat. Bahwa ada fase-fase tertentu dalam kehidupan yang semestinya diisi dengan refleksi, pengendalian diri, dan peningkatan amal.

Dengan memahami kedudukannya, Zulkaidah tidak lagi menjadi bulan yang terlewat, melainkan momentum untuk kembali menata hubungan dengan Sang Pencipta. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img

Read more

Local News