NUKILAN.ID | ACEH TAMIANG — Semangat untuk menjaga kualitas pendidikan tetap digelorakan meski sejumlah wilayah di Aceh, termasuk Aceh Tamiang, baru saja dilanda banjir. Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen bersama dalam memajukan pendidikan melalui kegiatan tausiah Ramadan, buka puasa bersama, serta salat tarawih dan witir bersama keluarga besar Cabang Dinas Pendidikan Aceh Tamiang.
Kegiatan tersebut berlangsung di SMA Negeri 2 Patra Nusa, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, Kamis (5/3/2026). Acara ini dihadiri oleh seluruh kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB, serta sejumlah guru dan siswa di lingkungan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan pendidikan bagi generasi Aceh di tengah situasi pascabencana.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP menegaskan bahwa musibah banjir tidak boleh menghambat proses pendidikan di daerah tersebut.
“Walaupun kita sedang menghadapi musibah banjir, pendidikan harus tetap berjalan. Anak-anak Aceh harus tetap belajar agar menjadi generasi yang cerdas dan berkualitas,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun mental yang kuat dalam menghadapi persaingan di masa depan. Menurutnya, ketangguhan dan semangat tinggi menjadi kunci bagi generasi muda untuk mampu bersaing.
“Persaingan hanya dimenangkan oleh orang-orang yang kuat. Karena itu, semangat kita tidak boleh redup dalam membangun pendidikan yang lebih baik,” katanya.
Murthalamuddin juga menyoroti pentingnya perubahan pola pendidikan yang lebih menekankan pada kedisiplinan serta pembentukan pola pikir siswa. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan siswa tidak hanya dipengaruhi oleh keluarga, tetapi juga oleh kemampuan mereka dalam mengelola pola pikir dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
“Disiplin harus menjadi bagian penting dalam pendidikan. Anak-anak harus dilatih untuk mampu mengelola pola pikir dan tanggung jawab dalam kehidupan,” jelasnya.
Selain itu, ia turut menyinggung penggunaan telepon genggam di ruang kelas yang dinilai dapat mengganggu konsentrasi belajar apabila tidak digunakan untuk kepentingan pembelajaran.
“Jika siswa membawa HP ke ruang kelas bukan karena keperluan pembelajaran, maka fokus belajar mereka akan terganggu. Karena itu perlu ada pengaturan yang jelas di sekolah sesuai surat edaran disdik Aceh,” tegasnya.
Untuk meningkatkan kreativitas sekaligus rasa percaya diri siswa, sekolah juga didorong untuk memperbanyak kegiatan kompetisi dan lomba sebagai wadah bagi siswa dalam menyalurkan potensi dan meraih prestasi.
“Kita ingin membangun paradigma pendidikan baru dengan memperbanyak lomba-lomba bagi siswa agar mereka memiliki ruang untuk berkarya dan menunjukkan kemampuan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan para guru agar melakukan evaluasi apabila tujuan pembelajaran belum tercapai. Menurutnya, pemahaman siswa harus menjadi prioritas utama dalam proses belajar mengajar.
“Lebih baik siswa memahami delapan pokok bahasan secara mendalam daripada mempelajari sepuluh pokok bahasan tetapi tidak memahami apa-apa,” katanya.
Selain peningkatan kualitas siswa, peningkatan kompetensi guru juga menjadi perhatian. Dinas Pendidikan Aceh, kata dia, berencana melaksanakan Uji Kompetensi Guru (UKG) secara mandiri di Aceh sebagai bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik.
“Ke depan kita akan melaksanakan UKG guru secara mandiri di Aceh. Jika tidak lulus, maka sertifikat UKG dapat dicabut dan guru tersebut tidak diperbolehkan mendapatkan jam mengajar,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa tanggung jawab guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memastikan siswa benar-benar memahami pelajaran yang diberikan.
“Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajar siswa yang diajarkan,” ujarnya.
Di akhir arahannya, Murthalamuddin juga menekankan pentingnya mengaktifkan kembali fungsi perpustakaan sekolah sebagai pusat literasi bagi para siswa.
“Perpustakaan harus aktif dimanfaatkan oleh siswa. Sekolah juga perlu menyediakan buku-buku yang bermanfaat sesuai dengan kebutuhan kurikulum,” tutupnya.










