Panas Terik di Aceh Dipicu Perubahan Iklim Global

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Suhu panas yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa waktu terakhir berkaitan erat dengan krisis iklim global serta perubahan pola cuaca musiman.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Yopi Ilhamsyah, Ketua Divisi Hydrometeorological Hazard & Climate Change pada Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, dalam siaran program Green Radio di Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026).

Menurut Yopi, fenomena panas ekstrem yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu rata-rata global. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah mengalami cuaca yang lebih panas dan kering dari biasanya.

“Panas ekstrem yang kita rasakan merupakan bagian dari dampak perubahan iklim. Suhu udara meningkat karena akumulasi gas rumah kaca di atmosfer yang menahan panas bumi,” kata Yopi dalam siaran tersebut.

Ia menjelaskan bahwa secara musiman wilayah utara Aceh memang sedang berada dalam periode yang relatif kering. Sementara itu, sejumlah wilayah lain di Indonesia, terutama bagian selatan, masih mengalami curah hujan. Perbedaan kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer serta karakteristik geografis masing-masing wilayah.

Di Aceh, faktor topografi turut memengaruhi distribusi curah hujan. Wilayah barat dan selatan Aceh disebut lebih sering menerima hujan karena menjadi daerah pertama yang dilalui massa udara lembap dari laut. Sebaliknya, wilayah utara dan timur cenderung lebih kering setelah awan kehilangan sebagian kandungan uap airnya ketika melintasi kawasan pegunungan.

Kondisi panas dan kering yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat. Dari sisi kesehatan, suhu tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi, menurunkan kualitas kebersihan lingkungan, hingga memicu munculnya penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan vektor seperti nyamuk.

Selain itu, sektor pertanian juga menghadapi tantangan. Berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu sistem irigasi dan menyebabkan lahan pertanian—terutama sawah tadah hujan—mengalami kekeringan.

“Jika kondisi ini berlangsung lama, maka produksi pangan bisa terpengaruh karena tanaman membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh,” ujarnya.

Meski demikian, Yopi menilai kondisi cuaca panas tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh sektor. Bagi sebagian nelayan, cuaca yang relatif tenang justru dapat memudahkan aktivitas melaut karena gelombang dan angin cenderung lebih stabil.

Ia menegaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim tetap penting dilakukan secara bersama-sama. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan ruang terbuka hijau.

Menurutnya, pepohonan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim lokal karena mampu menyerap karbon dioksida sekaligus membantu menurunkan suhu lingkungan.

“Penanaman dan pelestarian pohon menjadi langkah sederhana tetapi penting untuk mengurangi dampak pemanasan,” kata Yopi.

Ia juga mengingatkan bahwa alih fungsi lahan dan berkurangnya kawasan hijau dapat memperparah peningkatan suhu di berbagai wilayah. Karena itu, perencanaan pembangunan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan.

Yopi berharap masyarakat semakin memahami bahwa fenomena panas ekstrem bukan sekadar kondisi cuaca biasa, melainkan bagian dari tantangan krisis iklim yang membutuhkan kesadaran serta tindakan bersama.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News