NUKILAN.ID | JAKARTA — Penyintas skizofrenia sekaligus Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo Raya, Fitri Setya Marwati, membagikan pengalaman pemulihannya dalam webinar Hari Peduli Skizofrenia Sedunia 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Dalam sesi diskusi bertajuk Mengembangkan Kelompok Penyintas Peduli Skizofrenia dalam Mengurangi Stigma Negatif, Fitri mengaku telah menjadi penyintas skizofrenia sejak 2007 saat masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
“Saya penyintas skizofrenia sejak tahun 2007, sejak saya masih kuliah dulu dengan segala dramanya, dengan segala terapinya. Sekarang saya bisa beraktivitas sehari-hari sebagai dosen dan juga mendampingi teman-teman di KPSI Simpul Solo Raya,” ujar Fitri dalam webinar tersebut, seperti dilansir Nukilan, Kamis (28/5/2026).
Fitri mengatakan pengalaman pribadi tersebut menjadi motivasi untuk mendampingi penyandang skizofrenia lainnya agar tetap memiliki harapan dan dapat kembali menjalani kehidupan secara produktif.
Sementara itu, psikolog klinis Retna Mariana Budiarti menjelaskan bahwa skizofrenia merupakan gangguan mental berat kronis yang memengaruhi proses pikir, persepsi, emosi, hingga fungsi sosial penderitanya.
Menurut Retna, penderita skizofrenia masih dapat menjalani kehidupan yang bermakna apabila mendapatkan dukungan psikososial yang tepat, selain pengobatan medis.
“Banyak pasien yang sudah pulang dari rumah sakit tetap mampu bekerja, kuliah, bahkan menikah. Dukungan untuk tetap menjadi manusia yang utuh itu sangat penting,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis recovery dan dukungan keluarga dalam proses pemulihan pasien. Menurutnya, keluarga memiliki peran penting sebagai sistem pendukung utama bagi penyandang skizofrenia.
Retna juga mengingatkan pentingnya deteksi dini terhadap gejala awal skizofrenia, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, penurunan kemampuan akademik, gangguan tidur, hingga munculnya kecurigaan berlebihan.
“Semakin cepat dideteksi dan diintervensi, maka peluang pemulihan fungsi sosial pasien juga semakin baik,” ujarnya.
Selain terapi medis, ia menjelaskan sejumlah intervensi psikososial yang dapat dilakukan, seperti psikoedukasi keluarga, terapi perilaku kognitif (CBT), pelatihan keterampilan sosial, hingga rehabilitasi kerja bagi penyandang skizofrenia.
Retna menilai stigma sosial masih menjadi tantangan besar dalam penanganan gangguan kesehatan jiwa di Indonesia. Banyak keluarga merasa malu atau takut terhadap penilaian masyarakat sehingga terlambat membawa pasien mendapatkan pertolongan medis.
“Stigma sering kali lebih menyakitkan dibandingkan gejalanya sendiri,” katanya.
Webinar yang digelar secara daring tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah dan menghadirkan narasumber dari kalangan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, komunitas, hingga penyintas skizofrenia. []
Reporter: Sammy


