NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada Jumat, 6 Maret 2026, bertepatan dengan 16 Ramadan. Dalam khutbahnya, ia mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman dalam menjalani kehidupan.
Amatan Nukilan.id, Azhari di hadapan jamaah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw menerima mukjizat terbesar berupa Al-Qur’anul Karim, yang diturunkan Allah SWT melalui Malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Wahyu pertama diturunkan pada bulan Ramadan ketika Nabi Muhammad saw berkhalwat di Gua Hira.
Ia mengutip firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan bahwa Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk tersebut serta pembeda antara yang benar dan yang batil.
Menurutnya, dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Al-Qur’an sebagai petunjuk ditujukan bagi orang-orang beriman yang meyakini kebenarannya dan mengamalkan ajarannya. Selain itu, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai bayyinat atau penjelasan yang menjadi dalil jelas bagi manusia dalam membedakan antara kebenaran dan kebatilan, termasuk dalam persoalan halal dan haram.
Dalam khutbahnya, Azhari menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia.
“Al-Qur’an sebagai huda linnas (petunjuk hidup), membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya. Di dalamnya terdapat pedoman akidah, ibadah, akhlak, muamalah, hingga aturan sosial. Di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan, Al-Quran tetap relevan. Ia bukan sekadar kitab bacaan, tetapi kitab pedoman. Siapa yang berpegang teguh kepadanya, tidak akan tersesat,” ujarnya.
Ia juga mengutip firman Allah dalam QS Al-Isra ayat 9 yang menyatakan bahwa Al-Qur’an memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus serta membawa kabar gembira bagi orang-orang beriman yang berbuat kebajikan.
Dalam penjelasannya, Azhari memaparkan bahwa konsep Al-Qur’an sebagai “huda” atau petunjuk setidaknya dapat dipahami melalui lima aspek kehidupan umat Islam.
Pertama, petunjuk dalam akidah. Al-Qur’an membimbing manusia untuk mengenal Allah, memahami tujuan hidup, serta menyadari adanya hari akhir. Dengan berpegang pada ajaran Al-Qur’an, seseorang tidak akan mudah putus asa saat tertimpa musibah dan tidak pula menjadi sombong ketika memperoleh keberhasilan.
Kedua, petunjuk dalam ibadah. Al-Qur’an menjelaskan berbagai perintah ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Selain tata cara pelaksanaannya, Al-Qur’an juga menanamkan nilai keikhlasan, ketakwaan, dan ketaatan dalam menjalankan ibadah kepada Allah.
Ketiga, petunjuk dalam akhlak. Menurut Azhari, Al-Qur’an menjadi pedoman utama dalam membentuk akhlak mulia. Di dalamnya terdapat perintah untuk berlaku jujur, bersabar, rendah hati, dan menjaga amanah, sekaligus larangan untuk berbuat zalim, sombong, dan menyakiti orang lain.
Ia mencontohkan bahwa seseorang yang berpegang pada ajaran Al-Qur’an akan menghindari berbagai bentuk kecurangan, baik di lingkungan kerja, sekolah, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagang tidak akan mengurangi timbangan, pegawai tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan seorang muslim tetap menjaga puasanya meski tidak ada orang lain yang melihat.
Keempat, petunjuk dalam keluarga. Al-Qur’an memberikan tuntunan dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Di dalamnya terdapat ajaran mengenai tanggung jawab suami, istri, serta kewajiban orang tua dalam mendidik anak dengan nilai tauhid, akhlak, dan kebiasaan ibadah sejak dini.
Kelima, petunjuk dalam muamalah. Al-Qur’an juga mengatur hubungan sosial dan ekonomi antar manusia. Prinsip-prinsip seperti keadilan, kejujuran, amanah, serta larangan berbuat zalim menjadi dasar dalam setiap transaksi.
Sebagai contoh, Al-Qur’an melarang praktik riba dan mendorong keadilan dalam jual beli. Setiap transaksi dianjurkan dilakukan secara jujur, tanpa penipuan, dan tidak merugikan pihak lain. Bahkan dalam urusan utang piutang dianjurkan untuk mencatat perjanjian agar tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari.
Selain itu, Islam juga mengajarkan agar upah diberikan tepat waktu sesuai kesepakatan, serta mendorong umat untuk menunaikan zakat dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial.
Di akhir khutbahnya, Azhari mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Ia mengingatkan bahwa upaya tersebut dapat dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni membaca Al-Qur’an, kemudian mentadabburi maknanya, serta mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan untuk dekat dengan Al-Quran, huda linnas, petunjuk bagi setiap manusia,” pungkasnya. (XRQ)










