NUKILAN.id | Banda Aceh – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) Aceh hingga Januari 2026 mencapai 6,69 persen. Kenaikan inflasi ini dipicu oleh bencana hidrometeorologi pada akhir November lalu yang memutus jalur distribusi serta mengganggu produksi sejumlah komoditas strategis.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, dalam kegiatan Bincang-Bincang Media di Banda Aceh, Kamis (26/2/2026).
“Bencana pada akhir November lalu menyebabkan distribusi terganggu dan produksi beberapa komoditas strategis terhambat. Hingga Januari 2026, inflasi Aceh berada di angka 6,69 persen,” kata Agus kepada awak media, termasuk Nukilan.
Selain secara tahunan, inflasi Aceh juga mengalami kenaikan secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 3,55 persen pada Januari 2026.
Meski demikian, Agus menjelaskan bahwa kondisi saat ini mulai menunjukkan perbaikan. Jalur distribusi yang berangsur pulih serta normalisasi pasokan pascabencana telah mendorong penurunan harga komoditas pangan dan energi di lima kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Aceh.
“Distribusi sudah mulai pulih dan pasokan berangsur normal, sehingga harga sejumlah komoditas mulai turun di beberapa daerah IHK,” ujarnya.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, Bank Indonesia terus mengampanyekan gerakan Belanja Bijak kepada masyarakat. Edukasi ini dinilai penting, terutama menjelang momentum peningkatan konsumsi seperti Ramadan dan Idulfitri.
“Belanja bijak tentu ini tetap kita akan sampaikan terus ke masyarakat. Kami tidak bosan-bosan mendorong agar masyarakat bisa melakukan belanja bijak,” kata Agus.
Ia menegaskan, tujuan utama belanja bijak adalah agar masyarakat membeli barang sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan, meskipun menerima tambahan pendapatan seperti Tunjangan Hari Raya (THR).
“Tidak perlu berlebihan kalau belanja walaupun mungkin dapat THR. Karena kalau belanjanya makin banyak, permintaan akan melonjak tinggi,” ujarnya.
Agus berharap dengan pola konsumsi yang lebih terukur, lonjakan permintaan dapat ditekan sehingga tekanan inflasi bisa lebih terkendali.
Selain kampanye belanja bijak, Bank Indonesia juga menggelar kegiatan Dapur Cerdas Inflasi. Program ini bertujuan mendorong masyarakat mengonsumsi bahan pangan olahan dan beku yang harganya relatif lebih stabil dan memiliki daya simpan lebih lama.
Reporter: Rezi












