NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Upaya percepatan penurunan stunting di Aceh memasuki fase baru setelah sebuah penelitian berbasis analisis spasial dan pemodelan statistik mengungkap faktor utama penyebab stunting pada anak. Hasil kajian tersebut menegaskan bahwa kondisi bayi saat lahir menjadi determinan paling dominan sekaligus arah penting bagi kebijakan intervensi ke depan.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Azhari, SKM, M.Kes, Fungsional Nutrisionis pada Dinas Kesehatan Aceh, menganalisis data prevalensi stunting di 23 kabupaten/kota di Aceh. Kajian ini menunjukkan bahwa meskipun tren stunting terus mengalami penurunan, angka prevalensinya masih berada di atas rata-rata nasional dan belum memenuhi target pemerintah.
Temuan tersebut merupakan bagian dari disertasi doktoral Azhari saat menempuh pendidikan pada Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, berjudul Analisis Spasial dan Identifikasi Faktor Risiko Mempercepat Penurunan Stunting di Aceh menggunakan Structural Equation Modeling. Analisis berbasis data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 juga memperlihatkan adanya ketimpangan prevalensi stunting antarwilayah di Aceh.
Melalui analisis spasial, Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam diidentifikasi sebagai wilayah prioritas yang membutuhkan intervensi lebih intensif karena memiliki konsentrasi risiko stunting lebih tinggi dibanding daerah lainnya.
Disertasi yang dipromotori oleh Prof. Dr. dr. M. Yani, M.Kes, PKK tersebut menemukan bahwa kondisi saat lahir—seperti berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan panjang badan lahir—menjadi faktor paling berpengaruh terhadap risiko stunting. Selain itu, faktor kesehatan anak, pola menyusui, kondisi ibu selama kehamilan, infeksi, serta praktik pemberian makan anak juga berkontribusi signifikan.
“Fase kehamilan dan kelahiran menjadi periode paling krusial dalam mencegah stunting. Jika intervensi dilakukan secara optimal sejak masa kehamilan, risiko stunting dapat ditekan secara signifikan,” simpul Azhari dalam penelitian disertasi doktoralnya.
Dari sisi program intervensi, penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil menjadi satu-satunya intervensi spesifik yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap penurunan prevalensi stunting. Program tersebut dinilai efektif memperbaiki status gizi ibu sekaligus mencegah kelahiran bayi dengan kondisi berisiko.
Sebaliknya, sejumlah program lain seperti pemberian tablet tambah darah, imunisasi dasar, pemantauan pertumbuhan, serta pemberian makanan tambahan bagi balita belum menunjukkan hubungan signifikan pada tingkat kabupaten/kota.
Kajian ini juga menyoroti pentingnya kepemimpinan kepala daerah dan koordinasi lintas sektor dalam keberhasilan percepatan penurunan stunting. Komitmen pemerintah daerah dinilai menjadi faktor penentu implementasi program, terutama melalui penguatan tata kelola konvergensi lintas sektor, monitoring yang konsisten, serta intervensi yang tepat sasaran.
Pendekatan intervensi, menurut penelitian tersebut, tidak dapat dilakukan secara seragam. Program perlu difokuskan pada wilayah prioritas dengan mempertimbangkan kondisi geografis, akses layanan kesehatan, serta faktor sosial ekonomi masyarakat. Strategi berbasis data dinilai mampu meningkatkan efektivitas kebijakan sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Hasil kajian ini menghasilkan sejumlah rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Aceh, di antaranya memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, meningkatkan kualitas intervensi gizi sejak masa kehamilan, serta memperkuat koordinasi lintas sektor. Penurunan stunting juga didorong menjadi agenda prioritas pembangunan daerah melalui perencanaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Selain itu, penelitian merekomendasikan agar indikator stunting dimasukkan sebagai indikator kinerja utama pembangunan manusia dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPJMD, RKPA, dan Renstra organisasi perangkat daerah. Peran Bappeda Aceh dinilai penting sebagai koordinator perencanaan dan penganggaran konvergensi program.
Intervensi juga disarankan difokuskan pada wilayah dengan prevalensi tertinggi melalui pendekatan berbasis lokus prioritas. Penyusunan peta lokus stunting dipandang strategis untuk memastikan program berjalan tepat sasaran hingga tingkat kabupaten dan desa.
Penguatan intervensi spesifik, terutama melalui PMT bagi ibu hamil, kembali ditekankan sebagai langkah efektif mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah yang menjadi faktor risiko utama stunting. Upaya pencegahan juga perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas layanan antenatal care (ANC), pencegahan anemia, deteksi dini kehamilan berisiko tinggi, serta penguatan sistem rujukan ibu dan bayi.
Terbit di Jurnal Bereputasi
Penelitian Azhari menghasilkan dua publikasi ilmiah di jurnal bereputasi. Publikasi pertama berjudul Spatial Analysis and Specific Nutrition Intervention Factors Associated with the Prevalence of Stunting in Aceh Province, 2022 yang diterbitkan dalam Action: Aceh Nutrition Journal (Vol. 10, No. 4, Desember 2025).
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan analisis spasial untuk memetakan prevalensi stunting serta mengkaji keterkaitannya dengan cakupan intervensi gizi spesifik. Hasilnya menunjukkan adanya variasi distribusi stunting antarwilayah serta hubungan signifikan antara cakupan intervensi gizi spesifik dan penurunan prevalensi stunting, sehingga menegaskan pentingnya pendekatan berbasis wilayah dalam perencanaan kebijakan.
Publikasi kedua berjudul Identifying Determinant Risk Factors for Stunting in Children Under Five Years of Age in Aceh, Indonesia: A Structural Equation Modeling yang telah diterima untuk dipublikasikan pada jurnal International Acta Biomedica (terindeks Scopus Q1). Penelitian ini menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) untuk mengidentifikasi faktor risiko determinan stunting pada balita.
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor sosial-ekonomi, intervensi gizi, serta faktor lingkungan dan kesehatan ibu-anak memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kejadian stunting.
Secara keseluruhan, kedua publikasi tersebut memperkuat kontribusi ilmiah disertasi dalam menghadirkan model analisis spasial dan model kausal berbasis SEM yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan percepatan penurunan stunting secara lebih terarah, efektif, dan berbasis bukti di Provinsi Aceh.












