NUKILAN.ID | LHOKSUKON — Petani di Kabupaten Aceh Utara melalui Gerakan Pemuda Berusahatani Aceh berharap pemerintah segera merealisasikan program revitalisasi lahan persawahan yang tertimbun lumpur akibat banjir bandang. Hingga kini, program yang telah diluncurkan sejak bulan lalu tersebut belum berjalan di lapangan.
Data mencatat sebanyak 11.929 hektar tanaman padi mengalami puso akibat banjir yang terjadi pada 26 November 2025. Selain itu, total lahan persawahan yang terendam banjir mencapai 18.316 hektar, terdiri dari 7.189 hektar rusak ringan, 6.447 hektar rusak sedang, dan 4.679 hektar rusak berat. Sementara luas baku sawah di Aceh Utara mencapai 39.762 hektar.
Ketua Gerakan Pemuda Berusahatani Aceh, Zulfikar Mulieng, mengatakan program padat karya yang melibatkan petani dinilai sangat membantu pemulihan sektor pertanian. Namun, pelaksanaannya hingga kini belum jelas.
“Program padat karya melibatkan petani sangat bagus. Namun, sampai kini belum berjalan, bagaimana mekanismenya juga kami tidak tahu,” ucap Zulfikar Mulieng dikutip dari Kompas.com, Minggu (15/2/2026).
Ia berharap pengerukan lumpur sisa banjir dapat segera dilakukan agar lahan kembali bisa ditanami, meski sementara menggunakan sistem tadah hujan karena jaringan irigasi belum sepenuhnya pulih pascabencana.
Selain itu, menurutnya, sosialisasi terkait mekanisme program padat karya perlu segera dilakukan. Program tersebut memungkinkan petani membersihkan sawahnya sendiri dengan upah Rp 100.000 per hari, sehingga diperlukan kejelasan teknis pengerjaan dan sistem pembayaran.
“Jika program ini bisa segera dilakukan, ini mempercepat pemulihan ekonomi korban banjir yang petani,” kata Zulfikar.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Aceh Utara, Erwandi, menyampaikan bahwa program revitalisasi sawah sebenarnya telah diluncurkan dan saat ini masih menunggu petunjuk teknis pelaksanaan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Program tersebut merupakan kerja sama antara Kementerian Pertanian dan TNI.
“Kami sudah usulkan tahap awal pembersihan lumpur di Kecamatan Muara Batu dan Kecamatan Sawang dulu,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menghadiri kegiatan Groundbreaking Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana yang digelar di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, pada Kamis (15/1/2026). Dalam program tersebut, pembersihan lumpur dilakukan melalui skema padat karya dengan melibatkan petani yang membersihkan lahannya sendiri dan menerima upah Rp 100.000 per hari dari Kementerian Pertanian RI.


