NUKILAN.ID | FEATURE – Ketika kapal bantuan itu merapat di Pelabuhan Krueng Geukueh pada dini hari, Brigadir Rachmat Novriska, S.H. belum sepenuhnya tahu seperti apa rupa Aceh Tamiang setelah banjir bandang. Yang ia bawa hanya bayangan dari laporan-laporan singkat, foto di ponsel, dan cerita rekan-rekan yang lebih dulu berangkat. Tetapi semua itu runtuh ketika ia benar-benar menjejakkan kaki di darat: kota yang nyaris tak bisa dikenali, jalanan tertutup lumpur tebal, listrik padam, bangunan kusam dan basah, serta warga yang berjalan dengan wajah lelah, membawa sisa-sisa hidup mereka.
Rachmat berangkat bersama tim Polda Aceh pada gelombang ketiga, 29 November 2025. Sehari sebelumnya, gelombang pertama telah bergerak menuju lokasi bencana. Perjalanan mereka dimulai dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.
Sekitar pukul 20.00 WIB mereka apel persiapan, lalu dua jam kemudian berangkat menggunakan kapal pengangkut logistik. Perjalanan laut memakan waktu hampir 14 jam, sebelum akhirnya mereka tiba di Krueng Geukueh dan langsung dibawa menuju Polres Aceh Tamiang.
Ia telah berdinas di kepolisian selama 11 tahun. Dua tahun terakhir bertugas di Polda Aceh sebagai Ba Unit III Subdit IV Renakta Ditreskrimum, menangani perkara perempuan dan anak. Tetapi penugasan kali ini berbeda. Ia tidak membawa berkas perkara, tidak memeriksa saksi, tidak menulis berita acara. Ia membawa sepatu pacok, pakaian lapangan, dan satu kesadaran: bahwa ia akan bekerja di tengah penderitaan manusia.
Keputusan berangkat bukan tanpa beban. Saat itu kondisi Banda Aceh juga sedang tidak baik. Listrik padam di banyak tempat. Gas dan BBM langka. Di rumah, ia meninggalkan istri dan anak dalam situasi penuh ketidakpastian.
“Kalau kondisi di rumah baik-baik saja, mungkin saya tidak terlalu kepikiran. Tapi waktu itu situasinya kacau. Sebagai suami dan ayah, tentu ada rasa khawatir. Namun sebagai anggota Polri, perintah tugas tetap harus dijalankan,” kata Rachmat saat diwawancarai Nukilan.id pada 10 Januari 2026 lalu.
Sesampainya di Aceh Tamiang, kesedihan langsung menyergap. Anak-anak, bayi, dan lansia tinggal di tenda pengungsian. Mereka tidur beralaskan tikar seadanya. Makanan dan air terbatas. Jalanan penuh lumpur setinggi betis hingga pinggang. Kota tampak seperti berhenti bernapas.
“Orang-orang bilang seperti kota zombie. Waktu saya lihat sendiri, ternyata memang seperti itu,” ujarnya.
Rachmat langsung bergabung dengan tim pembersihan. Tugas mereka sederhana sekaligus berat: mengangkat lumpur, menyapu jalan, membersihkan rumah sakit, masjid, sekolah, dan fasilitas umum lain. Lumpur itu lengket, berat, dan seolah tak ada habisnya.
“Kadang terlintas di pikiran, sanggup tidak kita membersihkan semua ini? Tapi kami sudah dibagi kelompok. Fokus saja. Dalam hati saya cuma berkata, dua minggu ini harus bersih. Bersih tidak bersih, tetap harus dikerjakan,” ungkapnya.
Soal tidur dan makan, mereka urus sendiri. Ia tidur di tenda atau di mobil. Makan siang di dapur umum. Pagi dan malam sering hanya mi instan, roti, atau makanan kaleng yang dimasak seadanya.
Namun di antara lumpur dan kelelahan itu, Rachmat menemukan sesuatu yang lebih kuat: rasa kemanusiaan yang tumbuh tanpa dipaksa. Ia tidak lagi memikirkan materi atau kelelahan.
“Yang ada hanya ingin membantu. Kalau pun tidak dibayar, kami tetap ikhlas. Melihat kondisi warga, rasa itu muncul sendiri,” jelasnya.
Salah satu momen yang paling membekas terjadi di pengungsian. Ia berbincang dengan seorang anak kecil.
“Saya tanya, ‘Rumah adik di mana?’ Dia jawab, ‘Rumah saya tenggelam, Om.’ Sekarang dia tinggal di tenda. Banyak nyamuk. Waktu saya tanya, ‘Senang tidur di tenda?’ dia jawab, ‘Senang, karena tidur rame-rame,’” ceritanya.
Bagi Rachmat, percakapan itu sederhana, tetapi mengiris. Di balik senyum anak itu, ada kehilangan yang terlalu besar untuk usia sekecil itu.
Kesaksian serupa datang dari Akram, warga Aceh Tamiang. Kepada Nukilan.id, dirinya mengaku bahwa ia dan keluarganya kehilangan segalanya. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat di tubuh mereka.
“Tiga hari tiga malam kami bertahan di lantai dua rumah tetangga. Makanan dan minuman habis karena terlalu banyak orang di sana,” kata Akram.
Ketika banjir mulai surut pada 1 Desember, Akram dan warga lain berani turun mencari bantuan. Relawan sudah berpencar. Beberapa membawa perangkat Starlink dan memasangnya di salah satu warung kopi agar warga bisa menghubungi keluarga, karena selain listrik padam, sinyal ponsel juga mati.
“Bantuan yang paling terasa itu dari polisi. Mereka bersih-bersih jalan, rumah sakit, masjid, sekolah. Banyak anggota polisi berjasa di sini,” ujar Akram.
Sepulang dari penugasan itu, Rachmat membawa pulang rasa bangga yang tak bisa diukur dengan angka.
“Saya benar-benar merasa pekerjaan ini mulia. Kita membantu orang. Mungkin tidak seberapa, tapi kepuasan batinnya besar,” katanya. Ia teringat semboyan Brimob: Jiwa raga demi kemanusiaan.
Ia berharap suatu hari anak-anaknya membaca kisah ini dan memahami bahwa di balik seragam, polisi tetap manusia biasa—yang takut, lelah, dan rindu keluarga—namun memilih berdiri di sisi masyarakat ketika keadaan paling sulit.
“Polisi harus hadir untuk masyarakat, dalam kondisi apa pun. Walaupun keadaan kami sendiri saat itu juga kacau, tugas pengabdian tetap harus dijalankan.”
Di Aceh Tamiang, di antara lumpur yang tak pernah benar-benar selesai dibersihkan, Rachmat menemukan kembali arti menjadi polisi: bukan semata menjaga hukum, tetapi menjaga sesama manusia. (XRQ)
Reporter: Akil

