BMKG Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di Aceh untuk Reduksi Dampak Siklon Tropis Senyar

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi darurat pasca terjangan Siklon Tropis Senyar yang berdampak luas di Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Aceh.

Siklon Tropis Senyar tercatat sebagai bencana hidrometeorologi ekstrem yang menimbulkan kerusakan lingkungan berskala besar, kerugian materiil signifikan, serta korban jiwa. Fenomena ini dinilai tidak lazim karena sistem siklon tumbuh dan menguat di wilayah yang relatif dekat dengan garis khatulistiwa, sehingga memberikan pengaruh langsung terhadap kondisi atmosfer di daratan Sumatera.

Sebagai bentuk respons atas situasi tersebut, BMKG bersama BNPB menggelar OMC Mitigasi Banjir Provinsi Aceh sejak 28 November 2025. Operasi ini masih terus berlangsung seiring proses evakuasi dan pemulihan yang belum sepenuhnya tuntas. Status tanggap darurat bencana di Aceh sendiri telah diperpanjang hingga 22 Januari 2026.

Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison Kurniawan, menyampaikan bahwa pelaksanaan OMC didukung dua unit pesawat Cessna Caravan, yakni PK-SNP milik PT Smart Cakrawala Aviation (SCA) dan PK-SNN milik PT Milan Pillery Bersatu (MPB). Kedua pesawat tersebut beroperasi dari Posko Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh.

“Hingga Minggu, 18 Januari 2026 atau hari ke-52 pelaksanaan, OMC telah melaksanakan 312 sorti penerbangan dengan total bahan semai yang digunakan mencapai 139,8 ton NaCl dan 156,6 ton CaO,” jelas Edison.

Hasil evaluasi BMKG menunjukkan bahwa kegiatan OMC mampu menurunkan intensitas curah hujan di wilayah Aceh hingga 32 persen. Penurunan ini dinilai memberikan kontribusi penting dalam mendukung penanganan darurat bencana sekaligus mempercepat pemulihan infrastruktur yang terdampak.

BMKG dan BNPB menegaskan komitmen penuh dalam mendukung pelaksanaan OMC sebagai bagian dari tahapan penanganan pascabencana, khususnya dalam proses rekonsiliasi dan rekonstruksi akibat banjir yang dipicu aktivitas Siklon Tropis Senyar.

“Upaya OMC akan sangat membantu untuk meminimalisir dampak cuaca ekstrem serta memberikan dukungan bagi pembangunan konstruksi hunian sementara, perbaikan jembatan penghubung, dan normalisasi aliran sungai di wilayah Provinsi Aceh,” ujar Edison.

Sebelumnya, BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta telah memantau kemunculan Bibit Siklon 95B sejak 21 November 2025. Sistem tersebut kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar pada 26 November dini hari di koordinat 5,0° Lintang Utara, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 80 kilometer per jam. Kondisi ini memicu hujan lebat disertai angin kencang yang berlangsung secara persisten di wilayah Aceh.

Berdasarkan data pemantauan BMKG dan koordinasi lintas instansi, dampak Siklon Tropis Senyar menyebabkan lumpuhnya infrastruktur vital di 17 kabupaten/kota di Aceh. Banjir dengan ketinggian hingga lima meter di sejumlah titik memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Selain menimbulkan korban jiwa, beberapa warga juga dilaporkan hilang akibat derasnya arus banjir dan longsor.

Kerusakan turut terjadi pada berbagai fasilitas publik, mulai dari kantor pemerintahan, sekolah, hingga layanan kesehatan yang tidak dapat beroperasi akibat genangan air bercampur sedimen. Dari sisi lingkungan, pendangkalan sungai dan sedimentasi dalam skala besar merusak ekosistem bantaran sungai serta meningkatkan potensi bencana lanjutan. Sejumlah jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah timur dan utara Aceh juga terputus, sehingga menghambat distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah melalui sinergi BNPB, BMKG, dan Pemerintah Daerah Provinsi Aceh menginisiasi OMC sebagai strategi mitigasi darurat. Langkah ini bertujuan menekan potensi hujan ekstrem lanjutan, mendukung proses evakuasi, serta mengamankan pemulihan infrastruktur dan pembangunan hunian sementara agar tidak terganggu cuaca buruk susulan.

“Harapannya OMC dapat dilaksanakan secara tepat waktu dan tepat sasaran, sebagai bentuk upaya mitigasi dan penanggulangan bencana,” pungkas Edison.

Read more

Local News