NUKILAN.ID | FEATURE — Ketika jarum jam menunjuk pukul delapan pagi, Jumat, 26 Desember 2025, ribuan pasang kaki melangkah perlahan menuju Masjid Raya Baiturrahman. Langit Banda Aceh tampak teduh, seolah ikut menundukkan diri pada sebuah ingatan kolektif yang tak pernah pudar: pagi kelam dua puluh satu tahun silam, saat bumi berguncang dan laut datang tanpa permisi.
Di pelataran masjid yang megah itu, masyarakat Aceh berkumpul—para orang tua yang menyimpan kenangan pahit, generasi muda yang mewarisi cerita, serta anak-anak yang tumbuh di atas puing sejarah. Masjid Raya Baiturrahman, yang selamat dari amukan tsunami 2004, kembali menjadi pusat peringatan, pusat doa, dan pusat harapan.
Pemerintah Aceh menggelar peringatan 21 tahun gempa dan tsunami Aceh dalam bentuk doa bersama yang dimulai pukul 08.00 WIB. Rangkaian kegiatan meliputi zikir, samadiah, dan tausiyah, yang ditutup dengan Salat Jumat berjamaah.
“Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pelaksanaan Salat Jumat bagi kaum laki-laki,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, dalam keterangan persnya, Kamis, 25 Desember 2025 lalu.
Pemerintah Aceh menegaskan bahwa peringatan tsunami kini telah menjadi agenda rutin tahunan, meski tahun ini digelar sederhana karena Aceh juga tengah menghadapi bencana banjir dan longsor.
“Melalui doa bersama ini, Pemerintah Aceh mengajak masyarakat untuk mendoakan para korban tsunami sekaligus korban banjir dan longsor yang sedang terjadi. Ini menjadi refleksi dan penguatan spiritual bagi kita semua,” ujar MTA.
Masjid yang Tak Runtuh
Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya bangunan berarsitektur indah. Ia adalah saksi bisu dari kedahsyatan tsunami yang diawali gempa bermagnitudo 9,3. Gelombang setinggi hingga 30 meter melaju dengan kecepatan sekitar 360 kilometer per jam, menghancurkan kawasan pesisir dan pemukiman hanya dalam hitungan menit. Di sekeliling masjid, bangunan dan pepohonan roboh, tetapi masjid ini tetap berdiri.
Sampai hari ini, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri di jantung Banda Aceh. Bukan sekadar sebagai bangunan yang lolos dari kehancuran, melainkan sebagai penjaga ingatan kolektif, rumah doa, dan penanda kebangkitan sebuah bangsa kecil di ujung barat Nusantara yang pernah nyaris luluh oleh bencana.
Setiap tiang, setiap kubah, dan setiap lantai marmer masjid ini menyimpan kisah manusia—tentang jerit kehilangan, tentang tangan-tangan yang menggenggam erat saat air bah datang, tentang ribuan orang yang selamat dan ribuan lainnya yang tak pernah kembali. Ia bukan monumen mati, melainkan museum hidup yang terus mengajarkan makna keteguhan kepada generasi demi generasi.
Doa, Air Mata, dan Keteguhan Iman
Di dalam masjid, suasana khidmat menyelimuti ribuan jamaah. Zikir dan samadiah mengalun, berpadu dengan isak pelan dari mereka yang kembali mengingat orang-orang tercinta yang tak pernah pulang.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Abdul Somad (UAS) menyanjung keteguhan iman dan ketegaran masyarakat Aceh yang berkali-kali diuji sejarah.
“Datang Jepang, Jepang tak masuk. Datang DOM selesai. Datang tsunami, selesai. Apa pun yang datang ke Aceh, tidak ada orang Aceh yang murtad,” ujar UAS di hadapan ribuan jamaah.
Ia menuturkan bagaimana para ahli psikologi pun heran melihat kekuatan mental masyarakat Aceh.
“Psikolog bingung. Kok bisa orang Aceh tetap kuat dan sehat? Karena kekuatannya berpegang pada lailahaillallah muhammadur rasulullah. Itulah energi spiritual yang menjaga Aceh,” tuturnya.
UAS menegaskan bahwa ujian berat adalah tanda kekuatan iman sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
“Ketika sahabat bertanya kepada Nabi, siapa orang yang paling berat ujiannya? Nabi menjawab: para nabi, lalu orang saleh, lalu orang di bawahnya. Kalau melihat ujian yang diterima, saya yakin orang Aceh termasuk yang paling kuat imannya,” kata UAS yang disambut takbir oleh jamaah.
Menutup tausiyahnya, UAS berdoa agar Aceh terus menjadi teladan dalam kesabaran dan keteguhan.
“Allah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa di ujung barat Indonesia ada hamba-hamba-Nya yang kuat menerima berbagai macam pukulan, namun tetap tegar dalam iman,” pungkasnya.
Antara Luka dan Masa Depan
Usai doa, jamaah tidak langsung beranjak. Banyak yang tetap duduk di halaman Masjid Raya Baiturrahman (MRB), berbagi cerita, berpelukan, atau sekadar menatap langit. Di antara mereka, Zulkifli, seorang kakek yang datang bersama cucunya, menarik perhatian. Kepada Nukilan.id, ia bercerita bahwa dirinya adalah seorang nelayan yang kehilangan perahu dan rumahnya pada 2004.
“Saya ingin cucu saya tahu apa yang pernah terjadi di tanah ini. Supaya dia mencintai Aceh dan tidak lupa bahwa hidup ini harus dijaga bersama,” ujarnya, Jumat (26/12/2025).
Di sudut lain halaman MRB, seorang wanita tampak berdiri menatap kubah hitam masjid dengan mata berkaca-kaca. Setelah ditanya, ia memperkenalkan diri sebagai Rahmawati. Ia menceritakan bahwa dirinya adalah salah satu penyintas musibah 21 tahun silam. Saat itu, usianya baru 20 tahun, dan ia berhasil selamat berkat berlindung di masjid ini.
“Saya masih ingat jelas waktu itu. Kami sekeluarga dibawa lari ke sini,” ujarnya.
Rahmawati menambahkan, setiap tahun ia selalu hadir dalam peringatan tersebut, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengingat akan peristiwa yang pernah mengubah hidupnya.
“Setiap tahun saya ke sini. Masjid ini menjadi pengingat bahwa saya masih hidup dan harus tetap kuat,” katanya lirih.
Sementara itu, Azmi, seorang mahasiswa asal Aceh Selatan, datang bersama teman-temannya. Ia tidak mengalami tsunami secara langsung, namun cerita tentang tragedi itu yang diwariskan keluarganya membuatnya hadir untuk menunjukkan empati.
“Kami tidak mengalami tsunami. Tapi kami datang ke sini untuk berempati dan mendoakan seluruh korban. Supaya tetap bersyukur, dan jangan sampai kami kehilangan jati diri,” ujarnya.
Saksi Bisu yang Terus Berbicara
Dua puluh satu tahun telah berlalu, namun waktu tak pernah benar-benar memisahkan Aceh dari pagi kelam itu. Bagi masyarakat Aceh, Masjid Raya Baiturrahman tidak sekadar menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menatap masa depan.
Dari masjid inilah doa-doa untuk para korban dipanjatkan setiap tahun. Dari tempat yang sama pula lahir tekad untuk menjaga alam, memperkuat solidaritas sosial, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Ingatan itu tak dibiarkan beku dalam duka, melainkan diolah menjadi kesadaran dan kekuatan bersama.
Di sanalah Aceh menyimpan luka—bukan untuk diratapi, tetapi untuk dipahami; bukan untuk menenggelamkan diri dalam kesedihan, tetapi untuk menumbuhkan harapan. Harapan yang bukan sekadar ilusi, melainkan hasil kerja kolektif yang lahir dari iman dan pengalaman pahit. Di sanalah pula Aceh membangun masa depan—dengan iman sebagai fondasi terkuat, solidaritas sebagai tiang penyangga, dan ingatan sebagai kompas agar tragedi serupa tak pernah terulang.
Masjid Raya Baiturrahman berdiri bukan hanya sebagai saksi bisu sejarah, tetapi sebagai penutur yang tak pernah lelah—mengajarkan bahwa dari reruntuhan terdalam, manusia selalu memiliki kemampuan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan melangkah lebih tegap, lebih kuat dari sebelumnya. (XRQ)
Reporter: AKIL












