Nukilan.id – Pendidikan anak pertama kali diperoleh dari keluarga, kemudian dari lingkungan, sekolah, atau taman pendidikan anak usia dini. Saat ini pendidikan sekolah anak berupa PAUD atau pendidikan anak usia dini. Paud menjadi tempat sosialisasi pertama anak dengan teman sebayanya dan juga orang dewasa, yaitu gurunya di luar dari keluarga.
Seluruh aspek pembinaan yang diupayakan untuk anak usia dini ini disebut pendidikan usia dini. PAUD juga merupakan pendidikan persiapan untuk mengikuti pendidikan selanjutnya, yaitu pendidikan dasar.
Pendidikan usia dini juga pendidikan pra sekolah yang terdiri dari jalur pendidikan formal, non formal, dan informal. Jalur formal terdiri dari Taman Kanak-kanak (TK), sedangkan Raudhatul Athfal untuk jalur non formal adalah kelompok bermain, penitipan anak, dan satuan PAUD sejenis.
CEO Save Education Aceh (SEA) sekaligus guru SMPN 1 Banda Aceh, Aishah mengatakan, secara umum dengan memperhatikan tujuannya, pendidikan usia dini ini sangat penting. Di mana pada pendidikan usia dini ini memberikan stimulasi atau rangsangan bagi perkembangan potensi anak.
Terutama, bagi orang tua sangat penting untuk memahami bahwa pendidikan usia dini ini bukan tempat anak harus menjadi unggul dari teman-temannya. Namun sebagai tempat anak bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungannya.
Perlu diketahui, pendidikan anak usia dini adalah tempat untuk memberikan pendekatan-pendekatan sosial dan pendekatan pembelajaran melalui permainan dalam kondisi yang kondusif dan inklusif.
Kemudian, pendidikan dini guna memastikan bahwa perkembangan kepribadian anak yang bebas, harmonis sesuai dengan ritmenya, dan perkembangan kontrol diri pada anak terjadi. Hal tersebut disebabkan pendidikan anak usia dini belum memiliki kemampuan untuk memahami emosi, persepsi orang lain, atau penilaian orang lain terhadap dirinya.
Aishah juga menyampaikan, pendidikan anak usia dini bukan pendidikan industri. Artinya, pendidikan yang menempatkan pembelajaran berpusat di ruang kelas. Pembelajaran sejati terjadi dalam konteks kehidupan kita dan dampak jangka panjang dari setiap pembelajaran baru tergantung pada hubungannya dengan dunia di sekitar kita.
Misalnya, di masa-masa sulit, meskipun mungkin menyakitkan, kita sering sampai pada pemahaman yang tidak mungkin terjadi karena model yang berpusat pada kelas yang mendominasi.
Ia juga menyebutkan, banyak tempat di mana pembelajaran terjadi dalam kehidupan anak, salah satu seperti yang menjadi tema adalah PAUD. Taman bermain, rumah teater, atau bermain peran yang bisa dipentaskan dan tim olahraga.
Ini banyak diabaikan dalam pendidikan saat ini, khususnya di Aceh. Setiap hubungan dalam kehidupan anak membawa dimensi pembelajaran potensial, semua itu dapat dilakukan dengan semangat belajar. Tempat-tempat belajar semua pada umumnya tidak terlihat dari sudut pandang kelas.
Lanjutnya, untuk anak usia dini, setelah keluarga adalah rumah sendiri. Kemudian kerabat adalah tempat anak belajar juga. Banyak anak memendam perasaan dalam hubungan sosial dalam keluarga, yakni anak-anak yang usia dini belum dapat menangkap persepsi, sedangkan untuk anak pendidikan dasar sudah mulai menangkap sedikit persepsi dan emosi.
Lantas, apa kaitannya? Maka dalam menjalin hubungan kekeluargaan, dalam interaksi ini orang tua sulit untuk membendung hal-hal yang di luar kendalinya, yaitu persepsi-persepsi orang tua-orang tua dan kerabat.
Lazimnya terjadi dalam keluarga adalah membandingkan anggota keluarga satu dengan yang lainnya. Terlebih dalam konteks anak-anak yang sedang berproses tumbuh kembangnya. Anak-anak menjadi viktimisasi dari basa-basi keluarga yang bangga pada prestasi satu anak pada satu bidang tanpa mentolerir, tanpa berempati kepada anak yang disisinya yang tidak berprestasi sama dengan yang lain.
“Lantas apa yang ada di benak anak yang lain, tentu kekecewaan dan proteksi diri terjadi, indikasinya dapat terlihat dari anak menjauh, tidak melibatkan diri dari kumpul keluarga diakibatkan menghindar dari persepsi-persepsi orang dewasa yang not enough mature because of not enough parenting kowledge,” ucapnya saat diwawancarai Nukilan.id pada Minggu (28/1/2023).
Oleh karena itu, dinamika ini merusak kepercayaan diri anak sekaligus pembenaran bagi orang dewasa dan sulit untuk dihindari. Konflik ini sering menjadi beban bagi orang tua yang paham kondisi anak, namun di sisi yang lain sulit untuk menerima dikarenakan budaya menghormati dan setiap yang orang tua katakan sifatnya benar walaupun sangat tidak benar dan bahkan merusak dan menimbulkan depresi pada anak.
Akan tetapi, kembali pada pendidikan anak usia dini ini sudah saatnya kita harus menganggap ini adalah visi yang serius. Visi yang diartikulasikan bahwa anak memiliki variasi luar biasa dalam jenis kecerdasan dan variasi luar biasa dalam cara belajar. Enam puluh tahun terakhir telah ada penelitian inovatif tentang perkembangan anak, gaya belajar, dan sifat proses pembelajaran.
Semuanya mengarah pada menghargai variasi atau keberbedaan. Sangat penting untuk membawa anak pada pembelajaran realita. Didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran tindakan yang menghubungkan peserta didik dengan alam dan komunitas.
Beberapa prinsip pembelajaran realitas dan keberpihakan pada anak atau student center telah lama kita guru-guru lakukan, sifatnya inklusif dan pelepasan ini berubah menjadi keterlibatan belajar yang serius dan menyenangkan.
Ia juga menambahkan, di beberapa sekolah taman bermain yang berada di lingkup kota Banda Aceh sudah kita temui dan mengarah pada arah yang lebih baik walau dengan keterbatasan sumber daya.
Support sistem juga diperlukan untuk mendukung aktivitas ini. Ia juga sangat mengapresiasi kunjungan Darma Wanita Dinas Pendidikan beberapa pekan yang lalu ke sekolah dasar inklusi dan taman bermain atau PAUD.
Tujuannya sebagai support sistem untuk pendidikan inklusif. Kegiatan ini diharapkan dapat mengkontaminasi pihak-pihak lain untuk terus mendukung pendidikan, memberikan semangat kepada guru-guru, dan dengan harapan pendidikan terus mengarah ke perubahan pendidikan yang lebih baik.
“Selain itu, pendekatan yang lebih holistik dalam mengevaluasi kinerja guru dan sekolah juga perlu, evaluasi baik pada aspek akademik, pengembangan profesional, kesejahteraan guru, dan lingkungan belajar yang inklusif,” pungkasnya [Auliana Rizky]



