Monday, 12 October 2026 Banda Aceh 30°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Aktual

ABK Asal Langsa Hilang di Samudra Hindia, Terakhir Terlihat Memasak Mi di Kapal

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma. (Foto: Dok. Pribadi)
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Seorang anak buah kapal (ABK) asal Kota Langsa, Aceh, dilaporkan hilang di perairan Samudra Hindia. Hingga kini, korban belum ditemukan dan upaya pencarian masih terus dilakukan.

Informasi mengenai kehilangan tersebut diterima oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma, melalui surat resmi dari Geuchik Gampong Sungai Pauh Pusaka, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa. Surat bernomor 470/055/2026 itu tertanggal 9 Oktober 2026.

Dalam surat tersebut, Geuchik Dahlan meminta bantuan untuk memberikan perlindungan, melakukan pencarian, serta memfasilitasi pemulangan korban yang dilaporkan hilang di laut.

Haji Uma menjelaskan, korban bernama Raja Qarkham, warga Dusun Kesatuan, Gampong Sungai Pauh Pusaka, Kota Langsa. Korban bekerja sebagai awak kapal perikanan KM Bandar Nelayan 95 milik PT Bandar Nelayan yang beralamat di Denpasar Selatan, Bali.

Berdasarkan Laporan Kecelakaan Kerja (LKK) perusahaan Nomor 02/BN/X/2026 tertanggal 5 Oktober 2026 yang ditandatangani Direktur PT Bandar Nelayan, Richi Ricardo, kapal tersebut bertolak dari Pelabuhan Benoa, Bali, pada 26 September 2026 untuk menuju daerah penangkapan ikan di Samudra Hindia.

Dalam laporan itu dijelaskan bahwa pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, Raja Qarkham masih terlihat berada di dapur kapal untuk memasak mi. Setelah selesai makan, korban kemudian kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

Namun, sekitar pukul 19.00 WIB, ketika seluruh ABK dibangunkan untuk kembali bekerja, Raja Qarkham diketahui sudah tidak berada di kapal.

“Saat terakhir terlihat, korban mengenakan kaus lengan pendek berwarna hitam dan celana panjang hitam,” kata Haji Uma dikutip dari Kompas.com, Senin (12/10/2026).

Peristiwa hilangnya korban dilaporkan terjadi pada koordinat 11°23’000″ LS dan 113°14’800″ BT.

Pihak perusahaan menyampaikan bahwa upaya pencarian telah dilakukan oleh KM Bandar Nelayan 95 bersama tiga kapal lainnya, yakni KM Bandar Nelayan 161, KM Bandar Nelayan 153, dan KM Bandar Nelayan 115.

Laporan kecelakaan kerja tersebut juga telah disampaikan kepada sejumlah instansi terkait, antara lain Syahbandar PPN Pengambengan, Polair Polda Bali, Pangkalan PSDKP Pelabuhan Benoa, serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

“Tapi sampai sekarang memang korban belum ditemukan,” ujarnya.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Haji Uma meminta dukungan dari senator DPD RI asal Bali untuk membantu memantau perkembangan pencarian dan memfasilitasi koordinasi dengan instansi terkait.

“Untuk memastikan perkembangan pencarian ini jelas dan akurat, kita meminta bantuan sahabat-sahabat senator DPD RI asal Bali agar ikut mengawal dan memfasilitasi koordinasi dengan Basarnas Bali, Syahbandar Benoa, dan Polda Bali. Keluarga di Langsa sangat menunggu kabar,” tuturnya.

Menurut Haji Uma, koordinasi antardaerah sangat diperlukan agar proses pencarian dapat berjalan dengan baik. Selain itu, keluarga korban juga diharapkan memperoleh informasi resmi dan akurat mengenai perkembangan penanganan kasus tersebut.

“Hingga Minggu (11/10/2026), keluarga Raja Qarkham di Gampong Sungai Pauh Pusaka, Kota Langsa, masih berharap korban segera ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat dipulangkan ke Aceh,” katanya.

Update  berita lainnya di Nukilan.id dan Google News