Belanja Promosi Wisata Sabang Capai Rp1,17 Miliar, 27 Berita Tayang dengan Konten Sama

Share

NUKILAN.ID | SABANG — Belanja promosi pariwisata Kota Sabang pada 2024 mendapat sorotan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dalam pemeriksaan terhadap penggunaan anggaran pemasaran melalui media cetak, elektronik dan media lainnya, BPK menemukan 27 berita dengan konten yang sama dipublikasikan oleh sejumlah media.

Realisasi belanja untuk kegiatan penguatan pemasaran melalui media cetak, elektronik dan media lainnya pada 2024 tercatat sebesar Rp1.173.850.000.

Sebagaimana dilansir Nukilan dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK, BPK menemukan konten yang sama tersebut dipublikasikan oleh dua hingga tiga media berbeda. Temuan itu menjadi salah satu dasar BPK menyimpulkan bahwa program pemasaran pariwisata Kota Sabang belum sepenuhnya memperhatikan prinsip efektivitas dan efisiensi.

Dalam pemeriksaan terhadap biaya promosi, BPK menemukan tarif pemasaran melalui media cetak berkisar Rp19 juta hingga Rp35 juta untuk satu kali penayangan, tergantung ukuran informasi yang ditampilkan.

Sementara itu, Standar Harga Satuan Kota Sabang Tahun 2024 dan 2025 belum mengatur standar harga media cetak.

Hasil wawancara BPK dengan Kepala Bidang Pemasaran juga menunjukkan bahwa Dinas Pariwisata belum menggunakan kriteria tertentu dalam memilih media massa, seperti jangkauan pembaca, efektivitas media maupun pertimbangan biaya. Penentuan harga publikasi dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan media tanpa analisis perbandingan tarif media lokal dan nasional.

Pada 2024, Dinas Pariwisata menjalin kerja sama dengan sedikitnya 12 perusahaan media untuk penerbitan artikel berita dan pariwara. Total anggaran berbagai kegiatan penguatan promosi melalui kerja sama media yang tercantum dalam pemeriksaan mencapai Rp1,325 miliar, dengan realisasi Rp1,17385 miliar.

BPK menilai pola tersebut perlu diperbaiki karena strategi pemasaran pariwisata Kota Sabang telah diarahkan pada pemanfaatan teknologi informasi.

Per 25 November 2025, akun Instagram Dinas Pariwisata tercatat memiliki 3.089 pengikut, YouTube 109 subscriber, Facebook 914 pengikut dan TikTok hanya 27 pengikut. Aktivitas YouTube dan TikTok juga dinilai belum konsisten. BPK menemukan tidak adanya sistem yang memadai untuk mengukur jangkauan, interaksi maupun dampak promosi digital terhadap peningkatan kunjungan wisatawan.

BPK menyimpulkan pemasaran pariwisata berbasis teknologi informasi belum menjadi daya ungkit optimal bagi peningkatan kunjungan wisatawan. Kegiatan pemasaran juga dinilai terindikasi tidak efektif dan efisien serta belum dapat diukur keberhasilannya.

BPK merekomendasikan Dinas Pariwisata menetapkan tim pengelola website dan media sosial, menyusun strategi konten yang akurat dan mutakhir, membuat pedoman pemilihan media berdasarkan segmentasi pasar serta menyusun mekanisme pemantauan dan evaluasi pemasaran. []

Reporter: Sammy

Read more

Local News