NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Warga Kecamatan Kota Bahagia menggelar yasinan dan doa bersama di Dayah Hidayatul Anam, Senin malam (12/1/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh masyarakat, tokoh setempat, serta pimpinan dayah sebagai bagian dari penguatan nilai religius dan kebersamaan sosial.
Suasana khidmat mewarnai rangkaian kegiatan keagamaan tersebut. Selain menjadi tradisi yang telah mengakar di tengah masyarakat Aceh, yasinan dan doa bersama juga dimaknai sebagai ruang refleksi spiritual dalam menyikapi dinamika yang tengah dihadapi pemimpin Aceh Selatan.
Melalui doa-doa yang dipanjatkan, jamaah berharap agar pemimpin daerah diberikan kekuatan, keteguhan, serta petunjuk dalam menghadapi berbagai ujian dan proses yang sedang berjalan. Sejumlah tokoh masyarakat menilai pendekatan religius menjadi cara masyarakat dalam merespons persoalan sosial dan kepemimpinan.
Dalam beberapa waktu terakhir, pemimpin Aceh Selatan memang menjadi perhatian publik menyusul polemik yang berujung pada sanksi administratif dari kementerian. Polemik tersebut berkaitan dengan pelaksanaan nazar ke Tanah Suci Mekkah pasca kemenangan politik, yang memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat.
Sebagian pihak menilai tindakan tersebut melanggar etika pemerintahan, sementara sebagian lainnya memaknainya sebagai ekspresi spiritual yang bersifat personal. Namun, warga yang hadir dalam kegiatan di Dayah Hidayatul Anam memilih menyikapi situasi tersebut dengan cara yang menenangkan.
Mereka menilai doa dan munajat merupakan ikhtiar batin yang tidak bertentangan dengan proses hukum maupun administrasi yang sedang berlangsung.
“Dalam pandangan kami, pemimpin juga manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan ujian. Selain kritik, doa juga penting agar setiap proses dapat dijalani dengan baik,” ujar Abdullah Yen kepada Nukilan.id usai kegiatan yasinan.
Sementara itu, pimpinan dayah dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan iman dan amanah. Ia menegaskan bahwa semakin besar tanggung jawab yang diemban seseorang, maka semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi, baik secara lahir maupun batin.
Secara sosial dan politis, kegiatan yasinan tersebut mencerminkan sikap masyarakat akar rumput dalam merespons dinamika kepemimpinan daerah. Di tengah perbedaan pandangan dan perdebatan publik, masyarakat memilih menjaga ketenangan, persaudaraan, serta nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan munajat yang dipimpin oleh ulama dayah. Jamaah tampak khusyuk mengikuti doa hingga selesai. Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap Aceh Selatan tetap berada dalam suasana kondusif, serta pemimpin daerah diberikan kekuatan dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap proses yang ada. (XRQ)
Reporter: Akil










