NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Setelah berakhirnya bulan Syawal 1447 Hijriah, umat Islam kini memasuki bulan Zulkaidah, salah satu fase penting dalam kalender hijriah yang kerap luput dari perhatian. Padahal, bulan ini memiliki kedudukan istimewa sebagai bagian dari bulan-bulan haram yang dimuliakan dalam Islam.
Melihat momentum tersebut, Nukilan.id mewawancarai Ustaz Miswal untuk menggali amalan yang dianjurkan selama bulan Zulkaidah. Ia menegaskan bahwa bulan ini sejatinya menjadi ruang refleksi spiritual bagi setiap Muslim.
“Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh. Karena pahala dilipatgandakan pada bulan haram, maka dianjurkan untuk memperbanyak salat sunnah, sedekah, zikir, dan tilawah Al-Qur’an,” katanya pada Selasa (21/4/2026)
Penekanan pada amal saleh ini bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Islam, bulan-bulan haram memiliki nilai keutamaan yang berlipat, sehingga setiap kebaikan yang dilakukan memiliki bobot lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.
Tak hanya itu, dimensi pengendalian diri juga menjadi sorotan penting. Ustaz Miswal mengingatkan bahwa menjaga diri dari perbuatan dosa merupakan bagian tak terpisahkan dari kemuliaan bulan ini.
“Selain itu, kita juga dianjurkan untuk lebih kuat dalam meninggalkan maksiat. Sebagaimana firman Allah, ‘janganlah kalian menzalimi diri kalian.’ Maka penting untuk menjaga lisan, menjauhi dosa yang tersembunyi, serta menahan emosi. Ini sering menjadi ujian yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kemampuan untuk mengendalikan amarah,” ungkapnya.
Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, kemampuan mengendalikan emosi dan menjaga lisan menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, Zulkaidah hadir sebagai pengingat untuk kembali menata batin.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung amalan puasa sunnah yang tetap relevan untuk diamalkan selama bulan ini, meskipun tidak ada puasa khusus yang disyariatkan.
“Amalan lain yang dapat dilakukan adalah puasa sunnah. Memang tidak ada puasa khusus di bulan Zulkaidah, namun kita bisa melaksanakan puasa Senin-Kamis, serta puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriah. Ini termasuk amalan yang memiliki keutamaan,” pungkasnya.
Amalan-amalan tersebut menjadi sarana menjaga konsistensi ibadah, sekaligus melatih kedisiplinan spiritual yang berkelanjutan.
Tak kalah penting, Zulkaidah juga dipandang sebagai gerbang menuju bulan Zulhijjah, yang dikenal dengan puncak ibadah tahunan umat Islam.
“Kemudian, bulan Zulkaidah juga menjadi momen persiapan menuju Zulhijjah. Bisa dikatakan, bulan ini adalah ‘pemanasan’ menuju musim ibadah besar di bulan Zulhijjah. Maka, ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal,” jelasnya.
Persiapan ini menjadi krusial, mengingat keutamaan luar biasa yang terdapat pada awal Zulhijjah, sebagaimana disampaikan dalam banyak riwayat.
“Sebagaimana diketahui, sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah merupakan hari-hari yang sangat utama. Amal saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut bahkan lebih baik daripada jihad di jalan Allah,” tutupnya.
Dengan demikian, Zulkaidah tidak sekadar bulan peralihan, melainkan fase strategis untuk memperkuat fondasi ibadah. Ia menjadi ruang jeda yang sarat makna, tempat setiap Muslim menata kembali niat, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri menyambut puncak kemuliaan di bulan berikutnya. (xrq)



