Tips Mengenali Video Hoaks

Share

Banyak hoaks menyebar melalui video di Facebook dan YouTube. Jika tidak cermat, kita bisa terjebak dengan menjadi penonton video tersebut, secara tidak langsung menyumbang jumlah tayangan (view) dan bahkan membuatnya viral. Tragisnya, pembuat video hoaks mendapatkan uang dari banyaknya view, yang justru membuat mereka semakin termotivasi untuk terus menyebarkan hoaks.

Agar tidak turut menyumbang view untuk video hoaks, berikut adalah ciri-ciri dan pola sebarannya di Facebook dan YouTube:

1. Judul Bombastis dan Tidak Sesuai Kaidah

Video hoaks sering kali menggunakan judul yang bombastis untuk memancing emosi penonton. Contohnya adalah judul video:
“LIVE: TKA China Deklarasi Perang, Pekerja Lokal Mulai Disingkirkan, Pabrik-pabrik Besar Dikuasai!”

Judul seperti ini memanfaatkan isu kebangsaan dan konflik untuk menarik perhatian. Padahal, isi video tidak menunjukkan bukti adanya deklarasi perang. Warganet yang terlanjur menonton menjadi korban hoaks. Hindarilah video-video dengan judul provokatif yang dapat memicu emosi atau mengandung propaganda.

Selain itu, ada pula judul yang salah ketik atau menggunakan berbagai tanda baca yang tidak sesuai kaidah, seperti mengganti huruf dengan angka atau simbol, misalnya:
“S4lah Ket!k!!”
Tanda baca yang digunakan sering kali berlebihan, seperti penggunaan tanda seru dua kali atau lebih.

2. Thumbnail Manipulatif

Thumbnail video hoaks sering kali diedit untuk memanipulasi informasi. Contohnya adalah foto ribuan orang menuntut Menteri Keuangan Sri Mulyani mundur dari jabatannya. Faktanya, foto tersebut adalah gambar pendukung Ahok dalam Pilkada DKI yang tidak ada kaitannya dengan Sri Mulyani.

Contoh lain, thumbnail video berjudul “Mobil Dinas PJ Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono Diserbu Warga” menggunakan foto demo mahasiswa di kantor DPRD Sumenep, Madura. Foto ini diedit dengan tambahan kobaran api dan asap agar terlihat dramatis, meskipun tidak ada api atau kerusakan dalam kejadian sebenarnya.

3. Narator Membacakan Artikel dari Media Online

Video hoaks kerap menggunakan narator yang membacakan artikel dari media daring. Meski topik yang dibahas tampak relevan, isi artikel sering kali tidak sesuai dengan klaim pada judul video.

Jika menemukan video dengan judul bombastis seperti ini, hindari rasa penasaran untuk menontonnya. Biasakan memeriksa berita dari media terpercaya untuk mendapatkan informasi yang benar.

4. Potongan Video Tanpa Konteks

Video hoaks sering kali mencomot klip dari berbagai sumber, mulai dari media online, televisi, hingga pendapat orang-orang di YouTube. Cuplikan ini disajikan secara sepenggal-penggal tanpa memberikan konteks yang lengkap.

Demi menghindari video dengan informasi yang diragukan kebenarannya, lebih baik mencari berita dari media yang sudah terbukti kredibilitasnya.

Bagaimana, Sobat Nukilan, masih ingin menonton video hoaks?

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News