Setkab DEMA FSH UINAR Soroti Nasib Korban Banjir Aceh Jelang Ramadhan

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Menjelang bulan suci Ramadhan, ribuan warga di berbagai daerah di Aceh masih menjalani kehidupan serba terbatas akibat banjir besar yang terjadi sejak akhir 2025. Banyak keluarga belum bisa kembali ke rumah karena kerusakan berat dan kondisi lingkungan yang belum aman, sehingga terpaksa bertahan di tenda darurat, posko pengungsian, meunasah, atau menumpang di rumah kerabat.

Banjir tersebut merusak ribuan rumah, fasilitas umum, serta lahan pertanian dan sumber mata pencaharian warga. BNPB menargetkan para pengungsi tidak lagi tinggal di tenda paling lambat 18 Februari 2026, menjelang Ramadhan. Namun hingga akhir Januari, pembangunan hunian sementara (huntara) baru mencapai sekitar 30 persen, membuat banyak keluarga masih hidup dalam ketidakpastian.

Pemerintah pusat bersama Pemerintah Aceh, BNPB, BPBD, TNI-Polri, relawan, dan berbagai organisasi kemanusiaan terus menyalurkan bantuan pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta mempercepat pembangunan huntara. Meski demikian, kebutuhan di lapangan masih jauh lebih besar dibandingkan dengan sumber daya yang tersedia. Tekanan ekonomi semakin dirasakan, terutama oleh warga yang kehilangan pekerjaan, usaha, dan lahan pertanian.

Kondisi ini semakin berat karena bertepatan dengan tradisi Meugang menjelang Ramadhan. Bagi banyak korban banjir, perayaan tersebut diperkirakan berlangsung lebih sederhana karena fokus utama tertuju pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, kesehatan, dan tempat tinggal yang aman.

Sekretaris Kabinet DEMA Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, M. Ikram al Ghifari, mengapresiasi upaya berbagai pihak, namun menegaskan pentingnya pemulihan jangka panjang.

“Kami mengapresiasi langkah pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, BNPB, BPBD, TNI-Polri, para relawan, serta seluruh elemen masyarakat yang telah bergerak membantu korban banjir. Namun menjelang Ramadhan, negara harus memastikan bahwa tidak ada rakyat yang menjalankan ibadah dalam kondisi lapar, tanpa hunian yang layak, dan tanpa kepastian masa depan. Kehadiran negara harus benar benar dirasakan, bukan hanya dalam bentuk bantuan sementara, tetapi juga dalam jaminan pemulihan yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menilai bencana ini perlu dijadikan momentum untuk memperkuat pemulihan permanen, pemulihan ekonomi rakyat, serta perbaikan sistem mitigasi bencana. Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan tahun ini menjadi simbol harapan akan keadilan, kehadiran negara, dan masa depan yang lebih layak pascabencana.

Read more

Local News