NUKILAN.id | Banda Aceh – Ramadan di Aceh tidak hanya identik dengan suasana religius, tetapi juga dengan aneka hidangan khas yang menggugah selera. Salah satunya adalah Sambai Oen Peugaga, lalapan tradisional yang hanya muncul di bulan suci ini dan selalu menjadi incaran masyarakat untuk berbuka puasa.
Di Jalan Garuda, Gampong Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Masitah, seorang penjual Sambai Oen Peugaga, sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Ia mengungkapkan bahwa setiap Ramadan, permintaan lalapan khas ini meningkat pesat.
“Lalapan ini istimewa karena dibuat dari 44 macam dedaunan dengan daun peugaga sebagai bahan utamanya. Rasa segarnya khas dan sangat disukai masyarakat Aceh,” ujar Masitah saat ditemui Nukilan.id pada Jumat (21/3/2025) sore.
Menurut Masitah, Sambai Oen Peugaga bukan sekadar lalapan biasa. Kehadirannya yang hanya terbatas di bulan Ramadan membuatnya semakin eksklusif dan banyak diburu masyarakat.
“Orang Aceh memang suka rempah-rempah dan dedaunan, terutama saat berbuka puasa. Itulah mengapa peminatnya selalu tinggi,” tambahnya.
Setiap hari selama Ramadan, Masitah mampu menjual hingga dua talam besar atau sekitar 300 bungkus Sambai Oen Peugaga. Dalam sehari, ia bisa meraup pendapatan hingga Rp2 juta dari penjualan lalapan khas ini. Meski sangat diminati, harga satu bungkusnya tetap terjangkau, hanya Rp7 ribu.
“Bahan-bahannya saya dapat dari pedagang di kampung. Mereka sudah mengemasnya, jadi saya tinggal meraciknya saja,” jelasnya.
Bagi masyarakat Aceh, Sambai Oen Peugaga bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang kaya akan nilai tradisi. Rasanya yang segar dan khas membuatnya terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Ramadan pun seolah tak lengkap tanpa kehadiran lalapan yang satu ini. Setiap suapan Sambai Oen Peugaga bukan hanya menyegarkan lidah, tetapi juga mengingatkan pada kekayaan kuliner tanah Rencong yang tiada duanya. (xrq)
Reporter: Akil