NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Pengungsi korban banjir masih tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, yakni Kecamatan Langkahan, Baktiya, dan Seunuddon.
Berdasarkan data yang dihimpun Kompas.com, sebanyak 204 kepala keluarga (KK) masih bertahan di tenda pengungsian di Desa Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon. Sementara itu, 300 KK lainnya mengungsi di Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan. Adapun di Kecamatan Baktiya, tercatat 19 KK masih berada di pengungsian.
Camat Langkahan, T Reza Ichwan, mengatakan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak hingga kini belum rampung. Ia menyebutkan proses pembangunan masih terus berjalan.
“Pengerjaannya masih berlanjut. April ini mungkin akan rampung. Barulah bisa kita pindahkan pengungsi ke hunian sementara,” ujar T Reza, Senin (30/3/2026).
Ia menambahkan, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan huntara agar para penyintas banjir dapat segera menempati hunian yang lebih layak dan nyaman.
Namun di lapangan, sejumlah warga menyebut fasilitas huntara belum memadai. M Tahir, salah seorang penyintas banjir di Desa Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, mengungkapkan bahwa hunian sementara belum dilengkapi sarana dasar.
“Sehingga warga belum menempatinya,” tutur dia.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Baktiya. Huntara di wilayah tersebut dilaporkan belum dilengkapi pintu, jendela, toilet, maupun instalasi listrik.
Ismail, penyintas banjir di Desa Matang Linya, Kecamatan Baktiya, mengatakan keterlambatan pembangunan sempat dipicu ketiadaan material.
“Sebelumnya tidak ada bahan material untuk hunian sementara. Sehingga pekerja pulang dulu. Kami berharap bisa segera pindah ke huntara,” ujarnya.
Para pengungsi juga memprotes data yang dirilis satuan tugas rekonstruksi dan rehabilitasi Sumatera yang menyatakan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian di Aceh Utara.
“Kami ini apa bukan pengungsi, apa bukan di tenda,” tegas Ismail.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News







