Puluhan Ribu Hektare Sawah di Aceh Utara Masih Terendam Lumpur, Irigasi Jamuan Belum Pulih

Share

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Dampak banjir besar yang melanda Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, pada November 2025 lalu masih dirasakan hingga kini. Sekitar 40.000 hektare lahan pertanian dilaporkan tertimbun lumpur, sementara kerusakan pada bendungan irigasi utama belum juga tertangani.

Kondisi tersebut membuat petani di wilayah itu terancam tidak dapat kembali mengolah sawah dan berisiko mengalami gagal tanam. Salah satu persoalan utama adalah jebolnya bendungan Daerah Irigasi (DI) Jamuan yang hingga saat ini belum diperbaiki.

Ketua Pemuda Desa Sawang, Afrizal, mengatakan bendungan DI Jamuan rusak saat banjir melanda dan belum mendapat penanganan lanjutan.

“Sebelum banjir, irigasi ini mengairi Desa Sawang, Blang Tarakan, Jurung dan Desa Babah Krueng. Kalau ini bisa diperbaiki segera, maka perekonomian korban banjir di empat desa itu segera membaik,” kata Afrizal dikutip dari Kompas.com, Sabtu (31/1/2026).

Menurut Afrizal, perbaikan irigasi menjadi kebutuhan mendesak agar petani tidak lagi bergantung pada pola tanam tadah hujan.

“Kalau irigasi diperbaiki sampai saluran distribusi, maka seluruh Kecamatan Sawang dialiri air irigasi ini. Tidak lagi mengandalkan pola tanam tadah hujan,” katanya.

Selain kerusakan irigasi, persoalan lain yang dihadapi petani adalah belum dimulainya pembersihan lumpur sawah. Afrizal menyebut, program pembersihan lumpur dari Kementerian Pertanian RI yang dinilai sangat membantu hingga kini belum berjalan.

“Karena petani diberikan uang tunai Rp 100.000 per hari untuk membersihkan sawahnya, itu program bagus. Namun belum berjalan sampai saat ini,” terangnya.

Camat Sawang, Mazinuddin, membenarkan luasnya dampak banjir yang terjadi di wilayahnya. Ia menyebut sekitar 40.000 hektare lahan pertanian di Kecamatan Sawang tertimbun lumpur akibat banjir yang terjadi beberapa bulan lalu.

Terkait perbaikan irigasi, Mazinuddin menjelaskan bahwa upaya penanganan darurat membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

“Kalau bendungan irigasi, diperbaiki darurat dan sistem pompanisasi itu butuh dana sekitar Rp 300 juta. Itu sudah didisain oleh mahasiswa relawan Universitas Gajah Mada, namun kita tidak punya dana untuk itu, relawan juga tidak punya dana,” terangnya.

Meski demikian, Mazinuddin menyebut Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah menetapkan perbaikan irigasi DI Jamuan sebagai prioritas utama dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir.

“Semoga Kementerian Pekerjaan Umum bisa segera membantu perbaikan irigasi ini,” pungkasnya.

Read more

Local News