NUKILAN.id | Jakarta – Proyek food estate di Merauke, Papua Selatan, menjadi sorotan lantaran dampak lingkungan yang signifikan. Menurut laporan terbaru dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), pembukaan lahan hutan untuk proyek ini diprediksi memicu lonjakan emisi karbon yang berpotensi mengancam komitmen Indonesia terhadap target Net Zero Emission 2050.
Penelitian CELIOS mengungkapkan, penebangan hutan untuk food estate seluas 2 juta hektar di Merauke berpotensi menghasilkan tambahan emisi karbon sebesar 782,45 juta ton CO₂. Angka ini setara dengan kerugian karbon sebesar Rp47,73 triliun.
“Jika emisi karbon Indonesia meningkat 2-3 persen akibat food estate, kita berpotensi kehilangan 5 hingga 10 tahun untuk mencapai target Net Zero Emission pada 2050,” ujar Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Senin (9/12/2024).
Deforestasi Masif, Papua Terancam
Food estate di Merauke juga menjadi pemicu deforestasi besar-besaran. Data Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat, dalam satu tahun terakhir (2022–2023), kerusakan hutan di Papua Selatan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 190 ribu hektar, atau hampir tiga kali luas DKI Jakarta.
“Papua bukan tanah kosong. Proyek seperti food estate harus mendapatkan persetujuan masyarakat adat Papua melalui prinsip PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan),” tegas Anggi Prayoga, Juru Kampanye FWI.
Anggi menambahkan, lebih dari 24 komunitas adat di Papua Selatan bergantung pada hutan untuk keberlangsungan hidup mereka. Tanpa perlindungan yang memadai, proyek ini berisiko menghilangkan hak-hak masyarakat adat serta merusak ekosistem.
Kontradiksi dengan Komitmen Iklim
Lonjakan emisi karbon yang dihasilkan proyek ini dinilai bertentangan dengan upaya global menekan emisi untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C. Jika terealisasi, kontribusi emisi karbon Indonesia terhadap emisi global dapat melonjak dari 2–3 persen menjadi 3,96–4,96 persen.
“Ini adalah lonceng peringatan bagi kita semua. Kebijakan pembangunan yang mengabaikan dampak lingkungan justru menjadi bumerang, baik bagi masyarakat lokal maupun iklim global,” tambah Media Wahyudi.
Solusi Berbasis Ekonomi Restoratif
Untuk menghindari deforestasi masif, CELIOS merekomendasikan pendekatan ekonomi restoratif. Strategi ini memanfaatkan keanekaragaman hayati tanpa merusak hutan, sekaligus menciptakan peluang kerja hijau bagi masyarakat lokal.
Pendekatan berbasis restorasi juga dapat menekan kontribusi emisi karbon global Indonesia menjadi hanya 1–2 persen, sekaligus menjadikan Indonesia penyangga strategis penyerapan karbon global.
“Model ini sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan dan lebih mendukung ketahanan pangan berkelanjutan tanpa merusak lingkungan,” jelas Media Wahyudi.
Desakan Penghentian Proyek
Melihat implikasi serius terhadap emisi karbon dan kelestarian hutan, CELIOS mendesak pemerintah untuk mengevaluasi proyek food estate di Merauke. Alternatif berbasis komunitas perlu dieksplorasi demi mendorong pembangunan yang ramah lingkungan dan menguntungkan masyarakat lokal.
“Jika terus mengabaikan dampak lingkungan, Indonesia berisiko kehilangan reputasi global dan mengalami kerugian ekonomi lebih besar dalam jangka panjang,” tutup Media Wahyudi.
Proyek food estate di Merauke, yang digadang-gadang sebagai solusi ketahanan pangan, kini menjadi tantangan serius bagi masa depan lingkungan Indonesia. Akankah pemerintah bertindak tegas demi menjaga hutan dan komitmen iklim global? Waktu akan menjawab.
Editor: Akil