NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan kembali menghadirkan tayangan edukatif dan inspiratif melalui program unggulannya, Podcast Kito – Sahabat Zakat, yang tayang di kanal YouTube Podcast Kito (Sahabat Zakat), Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 WIB.
Memasuki episode kelima, podcast ini mengangkat tema “Dari Mustahik Menuju Muzakki”, sebuah konsep dalam ajaran Islam yang menggambarkan perjalanan dari penerima zakat menjadi pemberi zakat. Tema ini tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga nilai kemanusiaan, kemandirian, dan keberkahan hidup.
Episode tersebut menghadirkan narasumber Tgk. Sairul Bahri, S.Pd.I, Ketua Dewan Pengawas Baitul Mal Aceh Selatan yang juga pimpinan Dayah Raudhatussunnah Al Waliyyah di Gampong Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur. Diskusi dipandu oleh Sepri Kurniadi, dosen Politeknik Aceh Selatan sekaligus pengurus MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan.
Dalam pengantarnya, host menyampaikan bahwa zakat bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan energi perubahan yang mampu mengangkat kehidupan seseorang.
“Dari tangan yang menerima, menjadi tangan yang memberi. Dari yang dibantu, menjadi yang membantu. Inilah perjalanan kemuliaan dalam zakat,” ungkapnya.
Tgk. Sairul Bahri menjelaskan bahwa konsep “Dari Mustahik Menuju Muzakki” merupakan tujuan ideal dalam sistem zakat Islam. Menurutnya, zakat tidak hanya bertujuan meringankan beban sementara, tetapi juga membangun kemandirian dan martabat penerima.
“Zakat itu bukan untuk membuat seseorang terus bergantung, tetapi untuk mengangkat derajatnya. Ketika seorang mustahik mampu bangkit dan akhirnya menjadi muzakki, di situlah zakat telah bekerja secara sempurna,” jelasnya.
Ia menambahkan, Baitul Mal memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi tersebut melalui berbagai program pemberdayaan berkelanjutan, seperti bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, penguatan UMKM, hingga dukungan pendidikan.
Menurutnya, zakat produktif menjadi kunci dalam menciptakan perubahan jangka panjang, karena dapat menjadi modal usaha yang menggerakkan ekonomi keluarga bahkan komunitas.
“Zakat yang dikelola dengan baik akan melahirkan kekuatan ekonomi umat. Dari satu usaha kecil, bisa tumbuh harapan besar,” tambahnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar tidak hanya terletak pada aspek ekonomi, tetapi juga pola pikir dan mentalitas penerima zakat. Diperlukan semangat, usaha, dan keyakinan untuk keluar dari ketergantungan.
“Jangan pernah merasa cukup hanya sebagai penerima. Jadikan zakat sebagai pijakan untuk melangkah lebih tinggi. Bangkitlah, karena setiap usaha adalah jalan menuju perubahan,” pesannya.
Sebagai Ketua Dewan Pengawas, ia juga menegaskan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan ketepatan sasaran dalam pengelolaan zakat. Kepercayaan masyarakat, katanya, menjadi fondasi utama dalam membangun sistem zakat yang kuat dan berkelanjutan.
Dalam pesannya kepada para mustahik, ia menyampaikan:
“Jangan merasa kecil karena menerima zakat. Itu adalah hak yang Allah berikan. Tetapi niatkan dalam hati, suatu hari nanti kita akan menjadi orang yang memberi. Karena sebaik-baik tangan adalah tangan yang di atas.”
Sementara itu, kepada masyarakat Aceh Selatan, ia mengajak untuk menyalurkan zakat dan infak melalui Baitul Mal agar pengelolaannya lebih terarah dan memberikan dampak luas bagi kesejahteraan umat.
Menutup podcast, Sepri Kurniadi kembali menegaskan bahwa zakat bukan sekadar angka, tetapi harapan dan masa depan.
“Setiap rupiah zakat yang kita keluarkan bukan hanya membantu hari ini, tetapi menanam harapan untuk esok yang lebih baik. Zakat adalah jembatan perubahan, dari mustahik menuju muzakki,” tutupnya.
Melalui Podcast Kito – Sahabat Zakat, Baitul Mal Aceh Selatan berkomitmen menghadirkan edukasi publik yang terbuka, transparan, dan inspiratif, sekaligus mengajak masyarakat untuk bersama membangun kekuatan zakat demi terwujudnya Aceh Selatan yang lebih peduli, produktif, dan madani.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News



