Pengajian Abu Mudi di Masjid Raya Baiturrahman Perkuat Pemahaman Jalan Makrifat

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pengajian rutin yang disampaikan oleh Hasanoel Bashry kembali digelar di Masjid Raya Baiturrahman, Jumat malam (10/4/2026) usai shalat Isya. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memadati masjid kebanggaan masyarakat Aceh tersebut untuk mengikuti pengajian tasawuf yang diasuh ulama kharismatik asal Samalanga itu.

Dalam tausiyahnya, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut menegaskan bahwa jalan menuju makrifat tidak dapat ditempuh secara instan. Proses tersebut harus dimulai dari penguatan syariat, dilanjutkan dengan tarekat, hingga mencapai hakikat dan makrifat.

“Makrifat itu bukan sekadar dipelajari, tapi dijalani. Butuh mujahadah, zikir, dan istiqamah,” ujarnya di hadapan jamaah.

Pimpinan Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga itu juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur ajaran yang menawarkan jalan pintas menuju makrifat dengan meninggalkan syariat dan majelis taklim. Menurutnya, hal tersebut bertentangan dengan tradisi ulama Ahlussunnah wal Jamaah.

“Tidak ada makrifat tanpa syariat. Tidak ada hakikat kalau meninggalkan ilmu dan taklim. Siapa yang mengaku sudah sampai, tapi meninggalkan syariat, itu keliru,” tegasnya.

Pendiri Majelis Pengajian dan Zikir Tastafi itu menambahkan bahwa tasawuf merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim, bahkan dalam konteks penyucian hati dapat menjadi fardhu ‘ain. Tanpa tasawuf, seseorang berisiko kuat secara lahiriah namun lemah secara batiniah.

Selain membahas dimensi spiritual, Abu Mudi juga menyinggung berbagai persoalan fikih yang sering muncul di tengah masyarakat, seperti hukum shalat Jumat bagi tahanan, ketentuan musafir, hingga larangan khalwat. Hal ini, menurutnya, menunjukkan pentingnya keseimbangan antara pemahaman syariat dan pengamalan tasawuf.

Dalam kesempatan itu, ia turut menekankan pentingnya peran tarekat sebagai sarana pembinaan ruhani yang terarah. Ia juga mengisahkan bagaimana para ulama terdahulu menjaga kesinambungan tarekat, termasuk berkembangnya Tarekat Naqsyabandiyah melalui bimbingan para mursyid.

Pengajian tersebut menjadi ruang refleksi bagi jamaah untuk memperbaiki diri, tidak hanya dari sisi ibadah lahiriah, tetapi juga kebersihan hati dan kedekatan kepada Allah. Sejumlah jamaah mengaku memperoleh ketenangan serta pencerahan dari materi yang disampaikan, dan berharap pengajian rutin ini terus berlanjut sebagai wadah pembinaan spiritual masyarakat Aceh.

Dengan gaya penyampaian yang sederhana namun mendalam, Abu Mudi kembali mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah adalah proses seumur hidup yang harus diisi dengan ilmu, amal, dan kesungguhan hati.

Pengajian rutin ini menjadi salah satu denyut penting dalam menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam di Aceh, khususnya di Masjid Raya Baiturrahman yang sejak lama dikenal sebagai pusat peradaban dan dakwah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img

Read more

Local News