NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Peneliti asal Aceh, Muhammad Riza Nurdin, Lc., M.A., Ph.D., mengikuti simposium internasional bertajuk Global China: Inside Out and Outside In – Japan’s Perspectives yang berlangsung di Ibaraki, Osaka, Jepang, pada 25–26 Maret 2026.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Ritsumeikan University dan menghadirkan para ilmuwan dari berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Australia, Hong Kong, dan Malaysia.
Saat dihubungi, Riza mengaku bersyukur dapat menjadi salah satu pemateri dalam forum akademik bergengsi tersebut. Ia menilai simposium ini penting karena mengupas secara mendalam terkait investasi Tiongkok di berbagai belahan dunia melalui inisiatif Belt and Road Initiative.
Dalam forum tersebut, Riza mempresentasikan hasil penelitiannya yang menyoroti kuatnya identitas Melayu dalam kasus Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City. Menurutnya, faktor kultural menjadi salah satu penyebab munculnya resistensi masyarakat terhadap investasi.
Ia menekankan bahwa pemerintah dan pihak swasta, termasuk investor, perlu mempertimbangkan aspek budaya dalam setiap proyek pembangunan agar tidak merugikan masyarakat lokal.
“Orang Melayu ini punya prinsip: Biar putih tulang, jangan putih mata. Lebih baik mati daripada kehilangan identitas,” ujarnya.
Riza menambahkan, nilai tersebut juga relevan bagi Aceh agar generasi saat ini tidak kehilangan jati diri, terutama sebagai daerah yang dikenal dengan penerapan syariat Islam.
Riza merupakan peneliti di International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), lembaga riset yang merupakan konsorsium dari tiga perguruan tinggi di Aceh, yakni Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, dan Universitas Malikussaleh.
Selain aktif di dunia akademik, ia juga pernah tergabung sebagai anggota Dewan Pakar Tim Pemenangan pasangan Mualem–Dek Fadh dalam Pilkada 2024. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News







