HomeSetaraGenderPendidikan Seksual di Usia Dini, Perlukah?

Pendidikan Seksual di Usia Dini, Perlukah?

Nukilan.id – Apa yang terbayang dalam benak Anda ketika mendengar kata ‘seksualitas’? Ada kemungkinan Anda secara otomatis mengartikannya sebagai hubungan biologis antara laki-laki dan perempuan. Padahal, menurut psikolog asal Aceh Elly Risman Musa yang dilansir republika bahwa, seksualitas memiliki arti lebih luas.

Seksualitas adalah konsep diri manusia sejak dari dalam kandungan sampai sepanjang hidupnya. Dengan kata lain, seksualitas adalah cara seseorang memandang dan memaknai dirinya. Ini tentunya termasuk pengenalan “dari mana asal kita?” “siapa Pencipta kita?” dan seterusnya.

“Dari mana asal kita?” adalah pertanyaan kompleks, yang cepat atau lambat pasti akan ditanyakan oleh seorang anak. Alih-alih menggubah cerita fantastis tentang ‘toko bayi’ atau ‘Pak Bangau’, anak akan mengambil manfaat lebih bila orangtuanya bersikap terbuka dan memberikan pemahaman yang benar.

Kapankah waktu yang tepat bagi orangtua untuk memberikan pengenalan awal tentang “adek bayi datang dari mana?” Topik yang bagi sebagian besar orangtua masih berbalut tabu ini, menurut Direktur PKBI Aceh Eva Khofifah, harus diperkenalkan secara bertahap sejak usia dini.

Pada acara Konferensi Pers Masyarakat Sipil Aceh untuk Penghapusan Kekerasan Seksual di Albatros Cafe Peulanggahan (28/5), Eva mengungkapkan bahwa pendidikan seks perlu dikenalkan sejak awal agar anak tidak mengalami kebingungan.

Menurut Eva, orangtua sepatutnya menjadi sumber pertama informasi anak tentang hal ini. Sebab, bila orangtua tidak siap menjawab pertanyaan anak seputar seks, maka anak akan mencari informasi dari sumber lain. Tidak menutup kemungkinan, sumber lain ini memberikan pengertian yang salah pada anak.

“Dalam usia pubertas awal, yaitu tiga tahun, anak mulai menyadari adanya perbedaan kelamin. Saat ini adalah masa terbaik untuk mulai memasuki tahap awal pendidikan seksual,” ungkapnya.

“Ketika kita memperkenalkan anggota tubuh pada anak, sebaiknya kita tidak memberi sebutan ‘lucu-lucu’ untuk alat kelamin. Sebutan demikian berisiko membuat anak gagal memahami bahwa alat kelamin mereka harus diperlakukan secara hormat,” lanjut Eva.

Eva menambahkan, penting juga mengenalkan bagian tubuh tertentu yang tidak boleh disentuh orang lain, atau hanya boleh disentuh oleh orang tertentu. Misalnya, hanya oleh ibu, atau oleh pengasuh utama yang dapat dipercaya.

“Pendidikan seksual sejak dini dapat menjadi alat pencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak,” ujar Eva.

Pendidikan seksual tahap awal untuk anak usia dini tidak memerlukan penjelasan tentang hubungan seksual itu sendiri. Namun cukup pada fungsi kelamin, kesehatan dan kebersihan (thaharah), dan sebagainya.

Cara menyampaikan pada anak juga harus dengan bahasa yang dapat dimengerti. Dapat juga menggunakan metode permainan, gerak dan lagu, atau drama.

Di lain sisi, Eva Khofifah menegaskan bahwa pemahaman konsep diri yang baik akan membentengi anak dari predator seksual. Sebab konsep diri yang baik ini menanamkan harga diri dan rasa percaya diri pada anak. Anak yang percaya diri lebih mungkin untuk menolak bujukan atau grooming dari predator.

“Itulah pentingnya mengomunikasikan hal ini secara jujur dan terbuka. Jangan sampai gegara kita memberi julukan ‘lucu’ bagi kelamin, anak akan merasa bahwa dirinya ‘remeh’. Dan kemudian terjadi salah paham yang tak diinginkan.” kata Eva.

Eva juga mengatakan bahwa PKBI memiliki program ‘turun ke sekolah’ untuk mengenalkan tentang seksualitas manusia.

“Tahun lalu, kami sudah merintis program ini dengan mendatangi beberapa SMA dan SMP di Banda Aceh. Namun di luar dugaan, pandemi COVID 19 melanda dunia. Akhirnya kami harus menunda seluruh program tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah TK Al A’raf, Blangpidie, Dien Fitrianti,SH ditemui di sela acara Bimtek Penguatan Program Sekolah Penggerak Tingkat Provinsi di Bimas PAUD Lubok, Aceh Besar, mengisahkan bahwa di sekolah yang dipimpinnya pendidikan seksual tahap awal diberikan melalui gerak dan lagu.

“Lagunya bernada riang, bahasanya juga sederhana sehingga cukup mudah dipahami anak,” tuturnya. Lagu yang dimaksud berjudul ‘Sentuhan Boleh‘, karya Sri Seskya Situmorang. “Menurut para guru, rata-rata alumni kami sangat ingat lagu itu, baik nada, lirik, mau pun pesan yang dikandungnya,” tambah Dien.

Dia berharap, pesan lagu itu dapat membantu murid-muridnya memiliki pemahaman seksualitas yang baik, sekaligus membentengi diri mereka dari predator seksual. Lagu ‘Sentuhan Boleh’ dapat diakses di akun media sosial SEMAI 2045 di link yang tercantum di akhir tulisan ini.[DG]

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img