NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah mengkaji kebijakan work from home (WFH) selama satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN) dan karyawan swasta. Kebijakan ini dipertimbangkan sebagai langkah strategis untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) di tengah kenaikan harga energi global.
Rencana tersebut muncul seiring meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Presiden Prabowo Subianto disebut meminta jajaran kabinet untuk menyiapkan langkah antisipatif guna menjaga stabilitas energi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa konsumsi BBM nasional sebagian besar berasal dari aktivitas mobilitas harian masyarakat. Karena itu, penerapan WFH dinilai mampu menekan penggunaan BBM secara signifikan.
“Karena itu ada penghematan dari segi apa, penggunaan mobilitas dari bensin, penghematannya cukup signifikan seperlima, seperlima dari apa yang biasa kita keluarkan,” kata Airlangga usai rapat bersama Presiden di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (20/3/2026).
Menurutnya, pemerintah masih menyusun skema teknis agar kebijakan tersebut tidak mengganggu produktivitas kerja. Rencana WFH satu hari dalam lima hari kerja diperkirakan mulai diterapkan setelah Lebaran 2026, meski jadwal pasti masih menunggu finalisasi.
“Pasca lebaran, tapi nanti kita akan tentukan kapan waktunya,” jelas Airlangga.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa cadangan BBM nasional saat ini berada pada level sekitar 20 hari. Meski demikian, ia memastikan kondisi tersebut masih aman dan terkendali.
“Masih cukup, 20 hari. Sampai hari ini enggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” ujar Bahlil.
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya langkah efisiensi sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi krisis energi global. Ia mengingatkan bahwa dinamika geopolitik di Eropa dan Timur Tengah dapat berdampak pada harga energi, yang berujung pada kenaikan harga pangan.
“Pemerintah telah mengamankan sejumlah aspek fundamental, terutama terkait ketahanan pangan. Namun demikian, langkah antisipatif tetap perlu disiapkan untuk menghadapi kemungkinan tekanan pada sektor energi,” katanya.
Pemerintah pun mendorong seluruh pihak untuk meningkatkan kesadaran dalam menghemat konsumsi BBM agar stabilitas nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.












