NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh mendorong pemerintah daerah agar mulai mengarahkan pembangunan wilayah dengan pendekatan berwawasan lingkungan serta mempertimbangkan risiko perubahan iklim dan bencana alam. Dorongan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Ahmad Shalihin, dalam dialog bersama RRI Banda Aceh, Selasa (13/1/2026).
Ahmad Shalihin menegaskan, pembangunan ke depan harus disesuaikan dengan kondisi topografi dan tingkat kerawanan bencana, terutama banjir. Ia mengingatkan agar kawasan dengan kontur rendah dan risiko banjir tinggi tidak lagi difungsikan sebagai permukiman.
“Kita sudah harus memulai pembangunan wilayah yang berwawasan lingkungan dan iklim. Jangan sampai daerah yang rawan banjir kembali dijadikan lokasi pemukiman,” ujarnya.
Selain penataan ruang, WALHI Aceh juga menyoroti pentingnya pemulihan tutupan vegetasi di kawasan hulu dan daerah tangkapan air. Menurut Shalihin, langkah ini perlu dilakukan secara cepat dengan memilih jenis tanaman yang memiliki akar kuat dan mampu menahan laju air.
“Pemilihan tanaman dengan akar yang kuat dan cepat tumbuh harus segera dipikirkan, agar bisa menahan dampak curah hujan tinggi,” katanya.
Ia mencontohkan kondisi di Pidie Jaya, di mana kawasan hulu dinilai minim vegetasi. Kondisi tersebut berpotensi memicu banjir kembali saat curah hujan mencapai intensitas 50 hingga 83 milimeter per hari, baik dalam satu hari maupun beberapa hari berturut-turut.
Meski demikian, WALHI Aceh menegaskan tidak menolak pembangunan maupun sektor perkebunan. Namun, pola pengembangan, khususnya perkebunan sawit, dinilai perlu dilakukan secara lebih berimbang.
“Kami tidak anti pembangunan dan tidak anti sawit. Tetapi jangan sampai satu wilayah hanya didominasi tanaman dengan akar serabut. Perlu ada vegetasi lain dengan akar tunggang yang mampu menahan arus banjir bandang,” jelasnya.
WALHI Aceh pun mengajak pemerintah, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi merumuskan arah pembangunan Aceh yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

