Operasi Modifikasi Cuaca Masih Berlanjut di Aceh

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Aceh terus dilaksanakan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak cuaca ekstrem, mulai dari potensi banjir dan longsor hingga munculnya titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Koordinator Lapangan OMC Wilayah Aceh, Dwipa Wirawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah berlangsung sejak 28 November 2025 atas instruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Operasi tersebut dilakukan menyusul potensi hujan lebat yang berisiko memicu bencana.

“Sejak adanya rencana penanganan cuaca ekstrem, kami dari pelaksana OMC telah mengantisipasi dengan melakukan penyemaian awan sesuai perintah BNPB, agar hujan tidak berdampak pada banjir dan longsor seperti yang terjadi pada November lalu,” kata Dwipa, Minggu (25/1/2026).

Pada tahap awal, OMC beroperasi dengan basis di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Langkah ini dilakukan untuk menghalau hujan di wilayah Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Namun, seiring perkembangan kondisi cuaca dan kebutuhan nasional, termasuk tingginya curah hujan di Pulau Jawa, basis operasi kemudian dipindahkan ke Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar.

Dwipa menyebutkan, saat ini fokus utama OMC adalah mengendalikan hujan guna mendukung pembangunan hunian sementara di wilayah terdampak bencana. Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat dapat kembali menempati tempat tinggal yang layak, terutama menjelang bulan Ramadan.

“Penyemaian awan terus kami lakukan di sejumlah wilayah seperti Bireuen, Pidie, dan Aceh Timur, sekaligus mengamankan pembangunan jalur transportasi yang masih terputus akibat bencana,” ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih akan terjadi di Aceh dengan intensitas ringan hingga sedang. Meski demikian, kondisi tanah yang belum stabil dinilai masih berpotensi memicu longsor susulan serta menghambat pembangunan infrastruktur darurat.

Hingga kini, OMC telah melaksanakan sekitar 260 sorti penerbangan, dengan rincian masing-masing 130 sorti dari Bandara Kualanamu dan Bandara Sultan Iskandar Muda.

Selain mengantisipasi banjir dan longsor, OMC juga diarahkan untuk merespons kemunculan 175 titik panas di sejumlah wilayah Aceh. Dwipa mengatakan, penyemaian awan diharapkan dapat memicu hujan di daerah rawan karhutla, terutama di Aceh Barat dan Nagan Raya.

“Kondisi ini cukup menantang, karena di satu wilayah hujan sangat diharapkan untuk memadamkan hotspot, sementara di wilayah lain hujan justru harus diminimalkan karena pembangunan dan rehabilitasi jalur darat masih berlangsung,” jelasnya.

Secara teknis, tantangan terbesar dalam operasi ini adalah pertumbuhan awan yang cepat serta kondisi wilayah pegunungan yang berisiko terhadap keselamatan penerbangan. Risiko tersebut terutama meningkat pada sore hingga malam hari akibat masuknya massa udara dari Selat Malaka dan Samudera Hindia.

“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas, sehingga pergerakan pesawat harus dibatasi dan tidak bisa terlalu dekat dengan badan awan,” kata Dwipa.

Pada Minggu (25/1/2026), OMC melaksanakan dua sorti penerbangan. Sorti pertama dilakukan pada pagi hari untuk menghalau awan di perairan sekitar Aceh Timur agar tidak bergerak ke daratan. Sementara sorti kedua dilakukan pada siang hari menuju wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Timur.

Dwipa menambahkan, operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan hingga status siaga darurat dicabut atau setidaknya sampai pembangunan hunian sementara dapat diselesaikan secara optimal.

“Kami akan terus memantau perkembangan cuaca dan pertumbuhan awan di seluruh wilayah Aceh, baik di bagian timur maupun barat,” pungkasnya.

Read more

Local News