Friday, December 9, 2022

Nafla Syakira Ungkap Legenda Paya Nie Kuta Blang di Ajang Lomba Literasi Se-Aceh Besar

Nukilan.id – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 27 Aceh Besar mengutus siswi terbaiknya untuk mengikuti Lomba Bercerita yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Besar di Kota Jantho, Selasa 26 Juli 2022.

Nafla Syakira, murid kels IV MIN 27 Aceh Besar dalam lomba literasi tersebut menceritakan kisah viral dikalangan pelajar saat ini tentang Legenda Paya Nie Kuta Blang.

Mengenakan kebaya khas Aceh jaman dulu, Nafla tampil dengan anggun dan percaya diri dihadapan seratusan peserta dan pendamping dari 23 MIN dan SD Se-Aceh Besar.

Tentang legenda Paya Nie, konon katanya ada seorang perempuan tua yang salihah memiliki tujuh anak. Perempuan itu bernama Cut Nie. Suaminya sudah lama meninggal dn ia tinggal di sebuah rumah yang dilengkapi berbagai peralatan rumah tangga, berada di tengah pulau.

Dia hidup dengan putri bungsunya bernama Putroe Nie, sedangkan anak-anaknya yang lain sudah pergi merantau.

Sebelum kelahiran putri bungsunya, Cut Nie bernazar akan menjaga putri kesayangannya itu dengan sangat telaten hingga dewasa dan akan dinikahkan dengan seorang pria tampan dari pulau seberang.

Singkat cerita, Putroe Nie tumbuh menjadi gadis jelita dan hendak menikah. Lalu pada suatu hari, setelah menjemur padi di halaman rumahnya Cut Nie minta izin pada Putroe Nie untuk pergi menyampaikan undangan kepada saudara-saudaranya dan mencari bahan yang diperlukan untuk persiapan pernikahan putrinya itu.

Sebelum berangkat, dia berpesan agar sang putri tidak turun dari rumah untuk urusan apa pun, karena dia tak ingin anaknya itu tergoda oleh ‘piasan’ dunia luar. Dia juga mewanti-wanti, jika Putroe melanggar maka musibah akan menimpa mereka.

Sang putri yang jelita ini pun patuh pada ibunya. Dia duduk di tangga rumah sambil menjaga padi yang dijemur. Ketika menjelang sore ibunya tak jua kembali dan hujan tampak akan segera turun, Putroe berniat untuk mengumpulkan padi yang sudah dijemur agar tidak basah oleh hujan. Dia pun keluar rumah. Nah, ketika dia injakkan kaki di tanah tiba-tiba tanah menjadi lumpur dan hujan deras pun turun, disertai petir. Suara guntur membahana dan air bah naik begitu cepat. Putroe tidak mampu bergerak karena lumpur seakan mengikat kakinya. Dia akhirnya tenggelam tanpa jejak.

Ketika Cut Nie kembali, dia tidak lagi melihat anak dan rumahnya. Dia pun kemudian hilang tersedot rawa-rawa. Nah, cerita inilah yang menjadi dasar pemberian nama rawa-rawa yang dikelilingi tujuh gampong itu menjadi “Paya Nie”.

Awalnya, kawasan Paya Nie merupakan padang kering dan luas. Namun, setelah peristiwa di atas, Paya Nie menjadi bendungan sebagai sumber air untuk mengaliri sawah di sekitarnya. Di sini, ada masyarakat yang mencari ikan air tawar, seperti ikan gabus, gurami, bawal, dan lainnya untuk dikonsumsi sehari-hari. Ada juga masyarakat yang memanfaatkannya sebagai tambak untuk memelihara aneka jenis ikan air tawar. []

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img