Minat Baca Indonesia Naik Lampaui Korea Selatan, Gramedia Optimistis Ekspansi Toko Buku

Share

NUKILAN.ID | JAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial, minat baca masyarakat Indonesia ternyata masih tergolong tinggi. Bahkan, Indonesia disebut melampaui Korea Selatan dalam hal minat membaca buku.

Berdasarkan laporan Countries that Reads The Most Books 2024 dari CEOWORLD Magazine, Indonesia menempati peringkat ke-31 dunia. Data tersebut menunjukkan rata-rata waktu membaca masyarakat Indonesia mencapai 129 jam per tahun atau sekitar enam buku.

Mengutip Kompas.com, Director Corporate Secretary Gramedia, Yosef Adityo, menyebut capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi industri literasi di Tanah Air.

“Minat baca Indonesia menduduki peringkat 31 dengan 129 jam (baca) per tahun atau 5,91 buku. Setahun (sekitar) 6 buku ya. Banyak itu. Jadi rata-rata dua bulan baca buku satu selesai,” ungkap Adityo dalam acara JEDA (Jendela Edukasi & Dialog Media) di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).

Sebagai perbandingan, Amerika Serikat menempati posisi teratas dengan rata-rata 357 jam membaca per tahun.

Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan tingkat kegemaran membaca di kalangan generasi Z juga meningkat hingga 72,44 persen.

Fakta tersebut mendorong Gramedia untuk tetap agresif dalam memperluas jaringan toko buku di Indonesia. Hingga saat ini, Gramedia telah memiliki 148 toko yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

“Ini sebuah fakta yang sangat menarik membuat kita optimis, sehingga Gramedia sebagai salah satu institusi yang saat ini masih fokus dalam dunia literasi, masih semangat untuk buka toko lagi, buka konsep baru lagi, berinovasi dan lain-lain,” kata Adityo.

Dalam waktu dekat, Gramedia juga berencana membuka gerai baru dengan konsep serupa Gramedia Jalma yang sebelumnya viral di Blok M, Jakarta Selatan. Konsep ini mengusung ruang interaksi, komunitas, dan aktivitas sosial yang lebih luas bagi pengunjung.

“Next Jalma di mana sih? Ini di Semarang nanti, (Jalan) Pandanaran, dengan konsep lebih luas, lebih longgar sehingga harapannya aktivitas di Gramedia dengan konsep sebagai ruang bertemu, sebagai ruang berinteraksi, ruang untuk berkomunitas, bersosialisasi menjadi lebih leluasa di Gramedia Jalma Semarang,” tutur Adityo.

Selain itu, Gramedia juga terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar melalui konsep toko baru seperti Makarya dan Prose & Petals.

Dalam kesempatan yang sama, penulis ternama Eka Kurniawan turut berbagi pengalaman kreatifnya. Ia mengungkapkan bahwa proses menulisnya kerap berawal dari riset dan berbagai sumber inspirasi, mulai dari buku, sejarah, hingga cerita yang ia dengar.

“Mungkin ini bisa dibilang metode atau apa terserah. Tapi biasanya ketika aku pengin nulis, itu berbekal pengetahuan yang sebelumnya sudah saya tahu. Bisa karena membaca, karena keingintahuan, dan macam-macam,” tutur Eka.

Ia juga membagikan kebiasaannya menulis di pagi hari untuk mendapatkan fokus maksimal.

“Pagi-pagi sudah pasti paling enak gitu ya karena habis subuh sudah nggak boleh tidur. Dahsyat kalau sudah bangun itu. Jadi ya buka laptop nulis, mumpung belum ada kerjaan, anak-anak belum bangun berangkat jam 8 ke sekolah. Ada waktu lah 2-3 jam, ya sudah saya nulis. Dan pikiran masih masih fresh gitu ya, masih enggak overthinking, masih enggak terpapar oleh berita apa pun gitu. Triknya adalah jangan buka media sosial dulu pagi-pagi, karena begitu ketemu ada berita tertentu udah lanjut dengar berita,” ucap Eka.

Temuan ini menunjukkan bahwa di tengah gempuran digitalisasi, budaya membaca di Indonesia masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang, terutama jika didukung oleh inovasi dan akses literasi yang semakin luas.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News