NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang memimpin Republik Islam selama lebih dari tiga dekade di tengah ketegangan berkepanjangan dengan Barat, dilaporkan tewas pada Sabtu setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Teheran. Ia meninggal dunia pada usia 86 tahun.
Media Iran pada Minggu mengonfirmasi kematian tersebut. Dalam laporan resmi disebutkan bahwa Khamenei tewas di kompleks kantornya dan pemerintah akan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menanggapi kabar tersebut melalui media sosial. Ia menulis, “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi bagi seluruh warga Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia yang telah dibunuh atau dimutilasi oleh Khamenei dan gerombolan preman haus darahnya.”
Kematian Khamenei menandai berakhirnya satu periode penting dalam sejarah modern Iran. Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai arah politik negara tersebut maupun siapa sosok yang akan menggantikannya sebagai pemimpin tertinggi.
Tokoh Revolusi 1979
Khamenei merupakan ulama senior yang muncul dari gerakan religius anti-imperialis yang menggulingkan monarki Iran dalam Revolusi Islam 1979. Dengan penampilan khas janggut putih, sorban hitam, dan jubah ulama, ia dikenal sebagai figur religius konservatif yang jarang meninggalkan Iran selama menjabat.
Sepanjang kepemimpinannya, ia menggunakan kewenangan politik dan keagamaan untuk menekan berbagai gelombang protes terhadap sistem Republik Islam. Sikap kerasnya terhadap tuntutan hak perempuan dan kebebasan sipil memperkuat citranya sebagai pemimpin yang tidak ragu menggunakan kekuatan negara demi mempertahankan kekuasaan.
Khamenei menempatkan Iran sebagai musuh utama Israel dan penentang keras pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah. Ketidakpercayaannya terhadap Washington berakar pada sejarah campur tangan AS dalam politik Iran serta dukungan Amerika terhadap rezim monarki yang pernah memenjarakannya. Ia berulang kali menyerukan kehancuran Israel dan menyebut negara tersebut sebagai “tumor kanker” di kawasan.
Ideologi dan Konsep Jihad
Menurut Mehdi Khalaji dari Washington Institute for Near East Policy, Khamenei berperan penting dalam menjadikan konsep jihad sebagai fondasi ideologi negara Iran modern. Ia disebut berupaya menjadikan perjuangan berbasis iman melawan Barat—terutama Amerika Serikat—sebagai elemen utama sistem politik Republik Islam.
Sejak menggantikan Ruhollah Khomeini pada 1989, Khamenei memperkuat posisi institusi keagamaan garis keras serta militer, kerap berseberangan dengan aspirasi publik yang menginginkan reformasi dan hubungan lebih terbuka dengan Barat.
Gelombang protes nasional, termasuk demonstrasi besar pada 2022 setelah kematian seorang perempuan muda dalam tahanan polisi moral, ditanggapi dengan tindakan represif melalui aparat keamanan dan eksekusi yudisial. Kelompok hak asasi manusia mencatat ribuan korban tewas dalam berbagai aksi penindasan tersebut.
Pengaruh Regional Iran
Pengaruh Khamenei melampaui batas negara Iran. Ia mengawasi ekspansi Korps Garda Revolusi Islam yang menjadi kekuatan militer utama sekaligus alat proyeksi kekuatan Iran di luar negeri. Organisasi tersebut juga mengembangkan jaringan bisnis luas yang disebut mencakup hingga 40 persen ekonomi Iran.
Di bawah kepemimpinannya, Iran membangun jaringan sekutu negara maupun kelompok non-negara di Timur Tengah sebagai penyeimbang terhadap Israel dan sekutu Amerika Serikat. Pengaruh Teheran meluas ke Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, dan Gaza melalui dukungan milisi serta perang proksi.
Iran juga memberikan dukungan kepada Hamas sebagai bagian dari posisinya membela Palestina. Namun dinamika kawasan berubah setelah konflik besar yang pecah sejak Oktober 2023, yang melemahkan jaringan aliansi regional Iran.
Program Nuklir dan Konflik dengan Barat
Meski berulang kali menyatakan Iran tidak berniat memiliki senjata nuklir, Khamenei tetap mengawasi pengembangan program nuklir yang lama dicurigai Barat memiliki dimensi militer. Kesepakatan nuklir tahun 2015 kemudian runtuh setelah Amerika Serikat menarik diri pada 2018 di bawah pemerintahan Trump.
Krisis ekonomi yang memburuk turut memicu pemberontakan nasional pada Desember 2025 akibat anjloknya nilai mata uang dan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Aparat keamanan dilaporkan menewaskan ribuan demonstran dan melakukan penangkapan massal. Dalam pernyataannya saat itu, Khamenei menyatakan bahwa “para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya.”
Perjalanan Hidup
Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad. Pada usia 19 tahun, ia pindah ke Qom untuk belajar agama di bawah bimbingan Khomeini. Ia aktif dalam gerakan bawah tanah menentang Shah Iran dan beberapa kali ditangkap serta diasingkan.
Setelah Revolusi Islam, ia diangkat sebagai imam salat Jumat di Teheran. Sebuah percobaan pembunuhan membuat tangan kanannya lumpuh, namun beberapa bulan kemudian ia terpilih menjadi presiden Iran.
Meski dikenal konservatif, pada awal kariernya ia digambarkan sebagai ulama yang lembut, pecinta sastra, dan memiliki enam anak.
Ketika Khomeini wafat pada 1989, Khamenei bukan kandidat paling kuat karena tingkat keilmuannya belum memenuhi syarat konstitusi sebagai ayatollah. Namun melalui amandemen konstitusi, ia akhirnya diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Sepanjang masa pemerintahannya, beberapa presiden moderat sempat terpilih, tetapi ruang reformasi tetap terbatas. Gelombang protes besar pada 2009 dan 2019 ditumpas keras, sementara pada 2020 ia melarang penggunaan vaksin buatan AS dan Eropa selama pandemi Covid-19.
Pada tahun yang sama, setelah Garda Revolusi mengakui menembak jatuh pesawat Ukraina, Khamenei dalam khotbah langka membela militer Iran, menegaskan loyalitasnya kepada aparat keamanan di tengah kritik publik.













