Masjid Giok Nagan Raya, Destinasi Wisata Religi Berlapis Batu Mulia

Share

NUKILAN.ID | FEATURE – Di antara hamparan hijau perbukitan Nagan Raya, sebuah bangunan putih berdiri tenang, seolah menyatu dengan alam di sekitarnya. Tak ada kesan mencolok dari kejauhan. Namun, begitu melangkah masuk, Masjid Agung Baitul A’la—yang dikenal luas sebagai Masjid Giok—menyuguhkan pengalaman spiritual yang berbeda.

Dingin batu giok, kilau warna alaminya, dan kesenyapan ruang ibadah menghadirkan ketenangan yang sulit dilupakan, menjadikan masjid ini lebih dari sekadar tempat salat: ia adalah destinasi wisata religi yang sarat makna.

Kabupaten Nagan Raya, Aceh, perlahan namun pasti menegaskan dirinya sebagai salah satu tujuan wisata religi yang unik di Tanah Rencong. Di jantung ibu kota kabupaten, Kompleks Perkantoran Suka Makmue, berdiri Masjid Agung Baitul A’la—ikon baru yang kini melekat kuat dengan identitas daerah yang dijuluki Bumi Rameune.

Dikutip Nukilan.id, Masjid ini diresmikan pada 16 September 2022 oleh Jamin Idham, Bupati Nagan Raya kala itu. Peresmian tersebut menandai berakhirnya perjalanan panjang pembangunan yang memakan waktu sekitar 12 tahun. Prosesnya tidak selalu mulus. Persoalan lahan, keterbatasan anggaran, hingga berbagai kendala teknis sempat menjadi penghambat. Namun, komitmen pemerintah daerah dan dukungan masyarakat akhirnya mewujudkan sebuah masjid yang bukan hanya megah secara fisik, tetapi juga kaya nilai simbolik.

Keistimewaan Masjid Giok terletak pada material utamanya: batu giok asli. Batu mulia yang selama ini lebih dikenal sebagai perhiasan bernilai tinggi, di tangan para perancang masjid ini justru diangkat menjadi elemen arsitektur utama. Batu giok tersebut ditambang dari Pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong—wilayah yang sejak lama dikenal menyimpan kekayaan mineral alam.

Pengolahan batu giok dilakukan oleh tenaga ahli dari Tulung Agung, Jawa Timur, dengan lokasi pengolahan yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari area masjid. Dari proses ini, lahirlah lapisan lantai, dinding, tiang, hingga prasasti masjid yang terbuat dari berbagai jenis giok, seperti jadeit, nephrit, dan serpentin atau black jade (giok hitam).

Batu giok yang digunakan didominasi warna hijau, dengan tingkat kekerasan mencapai 7 skala Mohs, menandakan kualitasnya yang tinggi. Tak hanya itu, Nagan Raya juga dikenal memiliki jenis giok idocrase—sering disebut giok solar—yang pernah meraih peringkat pertama dalam ajang Indonesian Gemstone di Jakarta beberapa tahun lalu. Fakta ini semakin menegaskan bahwa Masjid Giok bukan sekadar bangunan religius, tetapi juga etalase kekayaan alam lokal.

Secara fisik, Masjid Giok berdiri di atas lahan seluas tiga hektare dengan ukuran bangunan 75 meter x 47,5 meter. Masjid ini memiliki dua lantai utama untuk salat, satu lantai basement yang difungsikan sebagai tempat wudu dan area parkir, serta mampu menampung hingga 5.600 jemaah. Kapasitas besar ini menjadikannya pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang pertemuan sosial masyarakat.

Perjalanan menuju Masjid Giok juga menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. Dari Banda Aceh, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 275 kilometer, dengan waktu perjalanan enam hingga tujuh jam melalui jalur darat. Meski cukup jauh, panorama alam sepanjang perjalanan dan tujuan akhir yang menenangkan membuat perjalanan terasa layak ditempuh.

Dari sisi eksterior, Masjid Giok tampil dengan arsitektur bergaya Timur Tengah yang minimalis. Dinding putih bersih mendominasi tampilan luar, dipadu dengan tata tangga dan ventilasi yang tertata rapi. Kesan yang muncul adalah sederhana, tenang, dan tidak berlebihan.

Namun, begitu memasuki aula utama, suasana berubah drastis. Interior masjid seakan membawa pengunjung ke ruang yang berbeda. Lantai dan dinding berlapis batu giok menghadirkan kesejukan alami yang langsung terasa di telapak kaki. Gradasi warna batu giok—mulai dari hijau tua, hijau muda, biru, cokelat, hingga hitam—tersusun harmonis, menciptakan keindahan visual yang menenangkan mata.

Tiang-tiang masjid yang juga dilapisi batu giok memperkuat kesan kokoh sekaligus artistik. Ornamen berwarna keemasan di sejumlah sudut ruangan menambah nuansa megah, namun tetap berpadu serasi dengan karakter batu alam yang dominan. Cahaya yang masuk melalui ventilasi dan lampu-lampu interior memantulkan kilau halus pada permukaan giok, menghadirkan atmosfer spiritual yang kuat.

Pandangan pengunjung kerap tertuju ke bagian kubah. Ornamen khas Timur Tengah dengan detail ukiran yang rumit menghadirkan kesan seolah berada di bangunan megah di kawasan Jazirah Arab. Perpaduan warna, tekstur, dan pencahayaan membuat ruang ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menghadirkan rasa khusyuk dan damai.

Pesona Masjid Giok juga dirasakan oleh salah seorang pengunjung, Sumarni, yang berkesempatan mengunjungi langsung masjid tersebut. Kepada Nukilan.id, ia mengaku terkesan dengan lokasi masjid yang berada di kawasan perbukitan, menawarkan pemandangan hijau dan udara yang sejuk.

“Luar biasa. Berada di puncak, nampak pemandangan hijau-hijau, dan sejuk sekali dengan suasana yang begitu damai,” ujar Sumarni pada Rabu 28 Januari 2026.

Tak hanya lingkungan sekitar, interior masjid pun menuai kekagumannya. Menurut Sumarni, penggunaan batu giok lokal dengan desain lantai yang elegan menunjukkan bagaimana kekayaan alam Aceh dapat diolah menjadi karya arsitektur bernilai tinggi.

“Kekayaan alam ini luar biasa, dan masjid ini menjadi contoh bagaimana kita memanfaatkannya untuk pembangunan tempat ibadah yang indah sekaligus bermakna. Masjid Baitul A’la memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi,” tuturnya.

Ia berharap, Masjid Giok dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan kearifan lokal Nagan Raya kepada masyarakat luas, baik dari dalam maupun luar Aceh.

Masjid Giok adalah lebih dari sekadar bangunan ibadah. Ia adalah narasi tentang kesabaran membangun, tentang kekayaan alam yang diolah dengan rasa, dan tentang iman yang diwujudkan dalam keindahan. Di tengah sunyi perbukitan Nagan Raya, masjid ini berdiri sebagai simbol bahwa spiritualitas tidak harus terpisah dari estetika dan identitas lokal.

Bagi para peziarah, pelancong, atau siapa pun yang mencari ketenangan, Masjid Giok menawarkan pengalaman: berhenti sejenak, menundukkan hati, dan merasakan damai yang memancar dari batu-batu hijau yang menyimpan kisah bumi dan keyakinan. (XRQ)

Reporter: Akil

Read more

Local News