NUKILAN.ID | FEATURE – Malam itu, 29 November 2025, Banda Aceh belum benar-benar pulih. Di sejumlah sudut kota, listrik masih padam. Bahan bakar minyak sulit didapat. Tabung gas menjadi barang langka. Warga berusaha bertahan di tengah situasi yang serba terbatas setelah cuaca ekstrem melanda berbagai wilayah Aceh.
Di tengah kondisi itu, Brigadir Rachmat Novriska, S.H., justru bersiap meninggalkan rumah.
Ia memeriksa kembali perlengkapan yang telah disusun sejak sore. Seragam lapangan, sepatu pacok, pakaian ganti, dan perlengkapan pribadi dimasukkan ke dalam tas. Tak banyak barang yang dibawa. Ia tahu, begitu tiba di lokasi bencana, tidak ada waktu untuk beristirahat. Tugas telah menunggu.
Namun sebelum menjadi seorang polisi, Rachmat adalah seorang suami sekaligus ayah.
Ada anak dan istri yang ia tinggalkan di rumah, tepat ketika Banda Aceh sendiri sedang dilanda berbagai kesulitan. Sebagai kepala keluarga, kegelisahan itu tak mungkin diabaikan. Bagaimana jika listrik belum juga menyala? Bagaimana jika bahan bakar semakin sulit diperoleh? Bagaimana jika keluarganya membutuhkan dirinya ketika ia berada ratusan kilometer jauhnya?
“Kalau kondisi di rumah baik-baik saja, mungkin saya tidak terlalu kepikiran,” katanya mengenang malam keberangkatan itu. “Tapi waktu itu situasinya juga sedang kacau. Sebagai manusia biasa, tentu ada rasa khawatir. Namun demi tugas dan pengabdian kepada masyarakat, mau tidak mau harus siap berangkat sesuai perintah.”
Kalimat itu meluncur tanpa nada heroik. Tidak ada upaya membesarkan pengorbanannya. Ia hanya menceritakan apa yang dirasakan seorang ayah yang harus meninggalkan keluarga ketika mereka sama-sama berada dalam situasi sulit.
Sekitar pukul delapan malam, ia bersama personel lain mengikuti apel di Pelabuhan Ulee Lheue. Dua jam kemudian kapal yang membawa bantuan logistik sekaligus personel kemanusiaan bergerak meninggalkan dermaga, membelah laut menuju Krueng Geukueh.
Perjalanan berlangsung hampir empat belas jam.
Di atas kapal, tidak banyak yang bisa dilakukan selain beristirahat dan menyiapkan tenaga. Mereka adalah gelombang ketiga personel Polda Aceh yang diterjunkan membantu penanganan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang. Gelombang pertama telah lebih dahulu diberangkatkan sehari sebelumnya. Rachmat dan rekan-rekannya akan memperkuat personel yang sudah bekerja di lapangan.
Selama sebelas tahun berdinas di Kepolisian Negara Republik Indonesia, Rachmat telah menjalani berbagai penugasan. Dua tahun terakhir ia bertugas di Unit III Subdirektorat IV Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh sebagai penyidik yang menangani perkara perempuan dan anak. Pekerjaan sehari-harinya akrab dengan ruang pemeriksaan, berkas perkara, dan pendampingan korban.
Namun penugasan kali ini sama sekali berbeda.
Tidak ada meja kerja.
Tidak ada berkas.
Tidak ada ruang penyidikan.
Yang menanti adalah lumpur, reruntuhan, dan ribuan warga yang sedang berusaha menyusun kembali hidup mereka.
Saat kendaraan yang membawa rombongan memasuki Aceh Tamiang, pemandangan yang selama ini hanya ia lihat melalui layar telepon genggam mendadak menjadi kenyataan.
Di hadapannya terbentang sebuah kota yang nyaris kehilangan wajah.
Lumpur menutupi jalan-jalan utama. Sebagian bangunan masih dipenuhi endapan tanah berwarna cokelat pekat. Dinding rumah menyisakan garis bekas ketinggian air. Perabotan berserakan di halaman. Aroma lumpur bercampur kayu basah memenuhi udara.
Di beberapa titik, tenda-tenda pengungsian berdiri seadanya.
Anak-anak berlarian di antara genangan.
Lansia duduk memandangi rumah mereka yang belum bisa ditempati.
Bayi digendong bergantian oleh orang tua yang wajahnya menyimpan kelelahan berhari-hari.
“Perasaan saya sangat sedih,” kata Rachmat.
Ia mengaku sempat terdiam beberapa saat.
Selama ini ia sering mendengar orang menyebut Aceh Tamiang saat itu seperti “kota zombie”. Sebutan itu terdengar berlebihan ketika hanya dibaca di media sosial.
Tetapi ketika ia menyaksikannya sendiri, istilah itu justru terasa menggambarkan keadaan yang ada.
Listrik belum menyala.
Aktivitas masyarakat nyaris berhenti.
Jalan dipenuhi lumpur.
Orang-orang berjalan pelan dengan wajah kosong, seolah masih berusaha menerima kenyataan bahwa rumah dan harta benda mereka hilang hanya dalam hitungan jam.
“Saya benar-benar terkejut melihat kondisinya.”
Tidak lama setelah tiba, seluruh personel langsung mengikuti apel pembagian tugas.
Personel kesehatan bertugas memberikan layanan medis.
Polwan disebar untuk membantu trauma healing bagi perempuan dan anak-anak.
Tim logistik menyalurkan bantuan kebutuhan pokok.
Sebagian personel mengatur distribusi bantuan.
Rachmat ditempatkan pada kelompok pembersihan.
Tugas mereka sederhana ketika diucapkan, tetapi sangat berat ketika dijalankan: membersihkan lumpur.
Mereka menyisir jalan-jalan utama, rumah sakit, sekolah, masjid, kantor pelayanan publik, hingga fasilitas umum lain agar dapat kembali digunakan masyarakat.
Hari-hari berikutnya hampir selalu dimulai dengan aktivitas yang sama.
Mengangkat lumpur.
Membuangnya.
Lalu kembali mengangkat lumpur.
Begitu berulang dari pagi hingga sore.
“Bayangkan, lumpurnya setinggi pinggang,” katanya.
“Kadang terpikir, sanggup tidak kita bersihkan semua ini?”
Pertanyaan itu muncul bukan karena ia ingin menyerah.
Melainkan karena luasnya wilayah yang harus dibersihkan hampir sulit dibayangkan.
Setiap kali satu halaman rumah selesai dibersihkan, halaman lain masih tertutup lumpur.
Setiap kali satu ruas jalan mulai terbuka, masih ada sekolah, masjid, atau fasilitas kesehatan yang menunggu giliran.
Pekerjaan itu seperti tidak pernah habis.
Namun setiap personel sudah dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil.
Masing-masing memiliki target.
Masing-masing memiliki wilayah kerja.
“Di dalam hati saya cuma bilang, dalam dua minggu ini harus bersih. Bersih tidak bersih, tetap harus dikerjakan.”
Kalimat itu menjadi pegangan selama bertugas.
Sebab di tengah bencana, tidak semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat.
Tetapi setiap sekop lumpur yang berhasil dipindahkan berarti satu langkah bagi masyarakat untuk memulai kehidupan mereka kembali.
Malam menjadi waktu paling sunyi.
Ketika pekerjaan berhenti dan suara mesin penyedot lumpur mulai menghilang, barulah rasa letih benar-benar terasa. Tubuh dipenuhi lumpur yang mengering, telapak tangan terasa pegal, sementara pakaian yang dipakai sejak pagi belum sempat benar-benar bersih.
Tidak ada penginapan yang nyaman.
Tidak ada kasur empuk.
Bagi Rachmat dan personel lainnya, tempat beristirahat bukanlah sesuatu yang bisa dipilih. Ada yang tidur di tenda darurat, ada pula yang membaringkan badan di dalam mobil dinas. Yang penting, tubuh memiliki waktu beberapa jam untuk memulihkan tenaga sebelum pekerjaan dimulai lagi keesokan harinya.
Makan pun tidak jauh berbeda.
Siang hari mereka masih bisa memanfaatkan dapur umum yang dibangun untuk melayani para pengungsi dan relawan. Namun pagi dan malam, menu mereka sering kali hanya mi instan, roti, atau makanan kaleng yang dimasak bersama.
“Kami tidak mungkin membebani warga. Mereka juga korban,” ujarnya.
Bagi Rachmat, kesulitan yang ia alami selama bertugas tidak sebanding dengan apa yang dirasakan masyarakat Aceh Tamiang.
Ia masih memiliki rumah untuk kembali.
Masih ada keluarga yang menunggu di Banda Aceh.
Sementara ribuan warga di hadapannya bahkan tidak lagi tahu harus pulang ke mana.
Di sela-sela pekerjaan membersihkan lumpur, Rachmat berusaha menyempatkan diri berbincang dengan warga.
Bukan sebagai penyidik yang sedang meminta keterangan.
Bukan pula sebagai aparat yang menjalankan prosedur.
Melainkan sebagai sesama manusia yang ingin mendengar cerita.
Dari sekian banyak wajah yang ditemuinya, ada satu percakapan yang hingga kini masih tersimpan jelas dalam ingatannya.
Hari itu ia melihat seorang anak kecil bermain di sekitar tenda pengungsian.
Anak itu tampak ceria. Sesekali ia berlari mengejar teman-temannya. Tidak ada raut kesedihan yang terlihat di wajahnya.
Rachmat menghampiri.
“Rumah adik di mana?” tanyanya.
Anak itu menjawab singkat.
“Rumah saya tenggelam, Om.”
Jawaban itu membuat Rachmat terdiam.
Ia kembali bertanya.
“Sekarang tinggal di mana?”
“Di tenda.”
“Senang tidur di tenda?”
Anak itu mengangguk sambil tersenyum.
“Senang, karena tidur rame-rame.”
Jawaban polos itu justru menghadirkan kesunyian yang panjang.
Bagi seorang anak, tidur bersama banyak orang mungkin terasa seperti petualangan.
Tetapi bagi orang-orang dewasa yang mendengarnya, kalimat itu menyimpan kenyataan yang getir.
Anak tersebut kehilangan rumah.
Kehilangan tempat bermain.
Kehilangan kamar tidurnya.
Namun ia belum cukup mengerti bahwa semua itu adalah kehilangan besar.
“Itulah dunia anak-anak,” kata Rachmat.
“Di mana pun mereka tetap berpikir untuk bermain. Wajah mereka terlihat bahagia. Tapi sebagai polisi dan sebagai manusia, kami sedih melihat kondisinya.”
Peristiwa sederhana itu tidak pernah masuk ke dalam laporan tugas.
Tidak ada kolom administrasi yang mencatat percakapan singkat antara seorang polisi dan anak pengungsi.
Namun justru percakapan itulah yang paling lama tinggal di ingatan.
Karena di tengah bencana, angka-angka sering kali gagal menjelaskan bagaimana rasanya kehilangan.
Cerita serupa datang dari Akram.
Rumah yang selama bertahun-tahun ia bangun bersama keluarga tidak lagi menyisakan banyak hal. Air bah datang begitu cepat hingga mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.
“Yang tersisa cuma pakaian di badan,” katanya.
Selama tiga hari tiga malam, ia bersama keluarga bertahan di lantai dua rumah tetangganya.
Jumlah orang yang mengungsi terus bertambah.
Persediaan makanan semakin menipis.
Air minum dibagi seadanya.
Tidak ada listrik.
Tidak ada jaringan telepon.
Mereka sama sekali tidak mengetahui bagaimana keadaan keluarga lain di luar sana.
“Kami hanya bertahan.”
Kalimat itu diucapkannya singkat, tetapi menggambarkan betapa panjang tiga hari yang mereka lalui.
Baru ketika air mulai surut pada 1 Desember, Akram bersama warga lain berani turun.
Mereka mencoba melihat kondisi rumah masing-masing.
Sebagian hanya menemukan lumpur.
Sebagian lagi menemukan bangunan yang sudah tidak lagi menyerupai rumah.
Di saat itulah bantuan mulai berdatangan dari berbagai daerah.
Relawan datang silih berganti.
Ada yang membawa makanan.
Ada yang membuka layanan kesehatan.
Ada pula yang membawa perangkat Starlink dan memasangnya di salah satu warung kopi agar warga dapat menghubungi keluarga mereka.
Di tengah keterbatasan itu, kehadiran personel kepolisian menjadi salah satu hal yang paling ia rasakan manfaatnya.
“Mereka membersihkan jalan, rumah sakit, masjid, sekolah dan fasilitas umum lainnya,” kata Akram.
“Kalau tidak dibersihkan, masyarakat tentu akan lebih sulit memulai aktivitas lagi.”
Bagi Akram, yang dilakukan para polisi mungkin terlihat sederhana.
Mengangkat lumpur.
Menyapu.
Membuang sampah.
Tetapi justru pekerjaan-pekerjaan sederhana itulah yang menjadi awal bagi sebuah kota untuk bangkit kembali.
Setiap hari Rachmat menyaksikan cerita yang berbeda.
Ada ibu yang menangis karena album foto keluarganya hanyut.
Ada pedagang yang tokonya tertutup lumpur hingga atap.
Ada anak-anak yang kehilangan buku sekolah.
Ada lansia yang duduk diam memandangi rumah yang tidak lagi bisa ditempati.
Semua kehilangan sesuatu.
Tidak semua kehilangan itu dapat diganti dengan bantuan logistik.
Banyak yang hilang justru berupa kenangan.
Dan kenangan tidak pernah dijual di mana pun.
Barangkali karena itulah, perlahan Rachmat tidak lagi memikirkan rasa lelah.
“Yang luar biasa, saya tidak lagi terpikir soal uang atau capek,” ujarnya.
“Yang ada hanya keinginan membantu.”
Kalimat itu lahir bukan karena ia ingin dipuji.
Ia mengaku, rasa itu muncul begitu saja setiap kali melihat warga berusaha membersihkan rumah mereka sendiri.
Melihat seorang ibu menyendok lumpur dari ruang tamunya.
Melihat seorang ayah mengangkat lemari yang sudah rusak.
Melihat anak-anak membantu orang tuanya memungut barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
“Kalau pun tidak dibayar, kami tetap ikhlas.”
Baginya, pengabdian tidak selalu diwujudkan dalam tindakan besar.
Kadang pengabdian hanya berarti ikut memegang sekop ketika warga sudah kehabisan tenaga.
Atau ikut mendorong gerobak berisi lumpur agar jalan bisa kembali dilewati.
Sedikit demi sedikit, jalan mulai terlihat.
Halaman sekolah mulai bersih.
Masjid kembali digunakan.
Rumah sakit mulai beroperasi.
Lumpur memang tidak hilang dalam satu hari.
Tetapi harapan masyarakat perlahan kembali muncul, bersamaan dengan setiap sudut kota yang berhasil dibersihkan.
Beberapa hari kemudian, ketika masa penugasan berakhir, Rachmat kembali ke Banda Aceh. Lumpur yang melekat di sepatu mungkin bisa dibersihkan. Namun ingatan tentang Aceh Tamiang tidak semudah itu hilang.
Ia masih mengingat wajah anak kecil yang mengaku rumahnya tenggelam, tetapi tetap tersenyum karena bisa tidur ramai-ramai di tenda. Ia juga masih mengingat warga yang menyambut para relawan dengan mata yang menyimpan lelah, sekaligus harapan. Di tengah kehilangan yang begitu besar, ia menyaksikan sendiri bagaimana gotong royong menjadi tenaga yang menggerakkan pemulihan.
Bagi Rachmat, penugasan itu mengubah cara pandangnya terhadap profesi yang telah dijalaninya selama sebelas tahun.
“Saya benar-benar merasa bangga menjadi polisi. Pekerjaan ini mulia. Kita membantu orang. Mungkin yang kita lakukan tidak seberapa, tetapi ada kepuasan batin yang besar. Saya selalu ingat semboyan Brimob, ‘Jiwa raga demi kemanusiaan’. Apa pun yang kami lakukan di sana, semuanya untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Ia berharap, kelak anak-anaknya membaca kisah itu bukan untuk melihat ayahnya sebagai sosok yang luar biasa, melainkan sebagai seseorang yang berusaha menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. Bahwa menjadi polisi bukan hanya soal menegakkan hukum, tetapi juga hadir ketika masyarakat berada pada titik paling rapuh.
Banjir memang akhirnya surut. Jalan-jalan perlahan kembali terbuka. Lumpur sedikit demi sedikit terangkat dari rumah, sekolah, masjid, dan rumah sakit. Namun bagi Rachmat, pengabdian tidak ikut surut bersama air. Ia tetap hidup dalam setiap sekop lumpur yang diangkat, setiap tangan yang diraih, dan setiap harapan yang perlahan dibangun kembali di Aceh Tamiang.






