NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah pada akhir November 2025 menimbulkan dampak besar terhadap sektor pertanian, terutama perkebunan kopi yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat di kawasan dataran tinggi Gayo.
Data terbaru Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh mencatat, kerusakan lahan kopi di Aceh Tengah mencapai 12.638 hektare. Kerusakan tersebut menjadi salah satu dampak terparah dari rangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi di wilayah itu.
“Data Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor mencatat, seluas 12.638 hektare lahan kopi di Aceh Tengah mengalami kerusakan akibat bencana,” kata Murthalamuddin, Sabtu, 10 Januari 2026.
Sementara itu, di Kabupaten Bener Meriah, kebun kopi juga menjadi sektor yang paling terdampak. Luas kerusakan mencapai 445,583 hektare yang tersebar di delapan kecamatan. Kecamatan Bukit tercatat sebagai wilayah dengan kerusakan terluas, yakni 198,179 hektare.
“Kerusakan kebun kopi cukup mendominasi dampak bencana hidrometeorologi di Bener Meriah. Ini sangat berpengaruh terhadap mata pencaharian masyarakat,” ujar Murthalamuddin.
Tak hanya kopi, bencana juga merusak sejumlah komoditas pertanian lainnya di Bener Meriah. Data mencatat, kerusakan sawah mencapai 68,732 hektare, perkebunan di Kecamatan Syiah Utama seluas 214,270 hektare, serta kolam masyarakat seluas 2,505 hektare.
“Secara keseluruhan, total kerusakan lahan mencapai 731,089 hektare,” ungkap Murthalamuddin.
Kerusakan yang meluas ini diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap ekonomi masyarakat, terutama petani kopi yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil perkebunan di wilayah tersebut.

