Thursday, May 30, 2024

Kisah Anak Muda Melawan Kepunahan Burung Endemik Indonesia

Nukilan.id – Ancaman juga kepunahan suatu spesies karena perburuan, degradasi hutan dan alih fungsi lahan menjadi perhatian beberapa anak muda, salah satunya adalah satwa jenis burung. Karena selain sebagai pengendali hama pertanian, adanya populasi burung juga berkontribusi terhadap keseimbangan alam.

Menyadari akan hal itu, Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia atau dikenal dengan Burung Indonesia mengadakan diskusi mengambil tema “Yang Muda Melawan kepunahan”. Diskusi itu menghadirkan beberapa anak muda yang menceritakan pengalamannya dalam bergerak melawan kepunahan spesies burung dengan caranya masing-masing.

Salah satunya yaitu Ivan Nadi, Mentor RUS Animation Studio Kudus penggarap film animasi “Sabda Alam”. Tujuan film yang digarap bersama anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Raden Umar Said (RUS) Kudus, Jawa Tengah ini adalah untuk melestarikan satwa, terutama burung endemik Indonesia yang sudah langka.

Agar tidak punah dan bisa dilestarikan populasi dan habitatnya, mereka menggarap film tentang perburuan burung endemis yang diperdagangkan secara ilegal. Selain di dalam negeri, burung-burung endemik itu juga kerap kali diperjualbelikan ke luar negeri.

Film animasi itu menceritkan secara tragis juga digambarkan burung kakaktua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) ditempatkan di botol air mineral yang dijual di pasar hewan, kondisinya tidak semua bisa diselamatkan.

Selain itu, dalam film dengan soundtrack lagu Sabda Alam karya Chrisye yang dinyanyikan Eva Celia Lesmana dan Fadly Padi itu juga menceritakan tentang burung rangkong gading (Rhinoplax vigil) yang diburu manusia dengan menggunakan senapan angin. Setelah itu dibawa ke pasar burung untuk diambil gadingnya, sebelum kemudian diekspor.

“Karena tindakan manusia inilah yang membuat populasi mereka itu ternyata semakin sedikit, bahkan mendapati kepunahan,” jelas Ivan dalam diskusi secara daring itu, Selasa (15/03/2022).

Pengamatan di Sekitar Rumah

Salah satu cara efektif untuk meningkatkan kecintaan terhadap burung di alam liar adalah dengan melakukan kegiatan pengamatan. Ketika itu dilakukan maka akan timbul rasa kepedulian untuk menjaga juga melestarikan, sehingga eksistensi burung itu terus ada.

Bagi Mikail Kaysan Leksmana (18), pengamatan burung itu sama halnya dengan bermain game pokemon, selalu merasa penasaran jika belum ketemu. Selain menyenangkan, kegiatan pengamatan burung juga bisa membawa dia untuk mengeksplorasi tempat-tempat baru.

Meski begitu, baginya, pengamatan burung disekitar rumah itu menjadi salah satu tempat yang favorit karena bisa dilakukan secara konsisten dan tidak perlu banyak persiapan. Saat pengamatan disekitar rumah ia bisa mengamati burung sriganti (Nectarinia jugularis), cabai jawa (Dicaeum trochileum), kutilang (Pycnocotus aurigaster), burung gereja (Passeridae), dll.

Kecintaan Kaysan melakukan pengamatan itu awalnya diperkenalkan oleh kedua orang tuanya disaat umurnya masih 4,5 tahun, seiring berjalannya waktu dia pun membuat kegiatan pendidikan alam yaitu Amati Jakarta.

Untuk itu, melalui video berdurasi 6:15 menit tersebut ia ingin menyampaikan pesan bahwa sudah saatnya masyarakat lebih peduli dengan keberadaan burung. Selain itu juga agar warga banyak yang sadar bahwa dampak yang sudah dilakukan oleh manusia itu bisa mengancam kepunahan spesies.

Kegiatan ini dibuat bermula dari keresahannya karena tidak mempunyai kawan sebaya untuk melakukan pengamatan burung di Jakarta. Untuk itu, pada 2017 dia akhirnya membuat acara pengamatan burung yang diadakan pertama kali di Monas, dengan sasaran peserta adalah anak-anak seusianya.

“Agar kegiatannya tetap menyenangkan saya kombinasikan dengan permainan, seperti sedang mencari harta karun, ada list jenis burung dan fotonya,” terang Kaysan. Selain lebih seru, mengkombinasikan pengamatan dengan permainan juga membuat anak-anak lebih mudah memahami.

Acara serupa juga ia lakukan dengan mengajak anak-anak untuk melakukan pengamatan burung di Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, pada tahun 2019. Sejak pandemi COVID-19 ruang gerak menjadi terbatas, dari situ muncul ide untuk membuat kegiatan secara virtual dengan nama Amati Sekitar Rumah.

Melalui kegiatan ini, kata dia, anak-anak yang semula tidak familiar dengan pengamatan menjadi semakin penasaran dengan keberadaan burung yang ada disekitar rumahnya. Untuk itu dia berharap kegiatan pengamatan burung ini semakin populer sehingga kelestarian burung menjadi terjaga.

Perburuan Menurun

Punahnya burung endemik karena maraknya aksi penangkapan burung terjadi di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Kepulauan Maluku. Berdasarkan keperihatinan itu, Mahmud Lasine (28) bersama sejumlah kawannya tergerak untuk membuat Komunitas Pelestarian Satwa Sibela atau disingkat Kompas Gandasuli.

Komunitas yang baru berdiri pada tanggal 29 April 2019 itu selain melakukan aksi konservasi burung dengan melakukan monitoring perburuan burung di Desa Gandasuli, monitoring dilakukan sebulan 3 kali.

Selain monitoring mereka juga melakukan kajian dan pendataan terkait dengan keanekaragaman hayati yang ada di kawasan tersebut. Edukasi ke masyarakat juga dilakukan agar tidak lagi memelihara burung endemik.

Upaya lain yang dilakukan komunitas ini yaitu mengajak masyarakat setempat untuk melakukan pengembalian fungsi lahan dengan menanam tanaman dengan menggunakan pupuk organik, mereka juga mendampingi warga untuk membuat pupuk yang ramah lingkungan.

“Kalau dilihat hasilnya, menggunakan pupuk organik lebih bagus daripada menggunakan pupuk kimia, buah tomat itu jadi lebih segar dan bertahan lama,” kata Mahmud.

Sebelumnya penebangan pohon cukup masif dilakukan oleh masyarakat setempat. Hal itu dikarenakan mayoritas warga ketika berkebun suka berpindah-pindah, sehingga perambahan hutan seringkali terjadi. Akibatnya habitat burung jadi berkurang.

Atas upaya-upaya yang dilakukan itu, saat ini kesadaran warga sudah berangsur-angsur membaik. Perburuan semakin menurun. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, untuk memenuhi permintaan pasar warga banyak yang melakukan penangkapan burung endemik seperti kakatua putih (Cacatua alba), kasturi ternate (Lorius garrulus) dan burung bidadari (Semioptera wallacii) untuk dijual. [Mongabay]

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img