Ketua IKA IP USK Dorong Gubernur, DPRA, dan Wali Nanggroe Bersinergi Hadirkan Meugang untuk Korban Banjir

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK), T. Auliya Rahman, mendorong Gubernur Aceh, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), serta Lembaga Adat Wali Nanggroe untuk meuseuraya atau bersinergi membantu masyarakat Aceh menyambut bulan suci Ramadhan melalui pelaksanaan Meugang, khususnya bagi warga terdampak bencana.

Auliya Rahman yang saat ini tengah menempuh studi Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menilai peran pemerintah dan lembaga adat sangat dibutuhkan menjelang Ramadhan, mengingat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Aceh belum sepenuhnya pulih pasca-banjir besar yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh pada November lalu.

Menjelang Ramadhan, masyarakat Aceh memiliki tradisi Meugang atau Mak Meugang, yakni memasak daging kerbau atau sapi dua atau satu hari sebelum puasa. Tradisi ini berakar dari masa Kesultanan Aceh, ketika Sultan Iskandar Muda memprakarsai penyembelihan ribuan sapi dan kerbau untuk dibagikan kepada masyarakat. Namun, dalam praktik modern, daging Meugang umumnya dibeli secara mandiri oleh masyarakat.

Menurut Auliya, kondisi pasca-bencana menyebabkan banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, termasuk untuk membeli daging Meugang. Oleh karena itu, ia menilai pemerintah dapat mengambil peran dengan menyalurkan bantuan berupa daging, kebutuhan pokok, atau membuka dapur umum Meugang bagi masyarakat.

“Dengan begitu, kehadiran peran Pemerintah dan perangkat Adat telah kembali pada tradisi yang sudah dijalankan oleh leluhur kita dan para sultan Aceh jaman dahulu, yaitu membagikan daging meugang kepada masyakarat,” ujarnya.

Ia menegaskan, program Meugang bagi korban bencana tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga memiliki nilai moral dan sosial yang kuat. Menurutnya, program tersebut dapat menumbuhkan kembali optimisme dan memperkuat persatuan masyarakat Aceh yang selama ini dikenal dengan semangat kebersamaan.

“Geutanyoe Aceh tameusyedara, gaseh meugaseh, bila meubila,” katanya.

Selain manfaat moril, Auliya menyebut program Meugang juga berkontribusi pada peningkatan gizi, khususnya bagi kelompok rentan dan anak-anak yang terdampak bencana.

Ia mengingatkan bahwa Meugang bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan jejak sejarah yang menunjukkan kehadiran dan tanggung jawab pemerintah di tengah masyarakat Aceh sejak masa lampau. Karena itu, menurutnya, tradisi tersebut perlu terus dijalankan dan dimaknai sebagai bagian dari peran negara dalam melindungi dan merawat masyarakatnya, terutama dalam kondisi krisis. (XRQ)

spot_img

Read more

Local News