Ketua IKA Ilmu Pemerintahan USK: Panic Buying BBM di Aceh Dipicu Trauma Krisis Energi Sebelumnya

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Fenomena pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan atau panic buying yang terjadi di Aceh dinilai bukan sekadar perilaku ikut-ikutan (fear of missing out/FOMO), melainkan bentuk kewaspadaan masyarakat terhadap potensi krisis energi.

Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK), T. Auliya Rahman, mengatakan kekhawatiran masyarakat muncul setelah memanasnya konflik internasional yang berdampak pada rantai pasok minyak dunia.

“Panic Buying BBM di Aceh bukan FOMO, itu wajar,” kata Auliya Rahman dalam keterangannya, Jumat (6/3/2025).

Menurutnya, perang antara Amerika-Israel dengan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan telah memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu perdagangan minyak dunia dan mengancam cadangan energi, termasuk di Indonesia.

Dengan akses informasi yang semakin cepat, kata dia, kabar mengenai situasi tersebut dengan mudah tersebar di masyarakat dan memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan BBM.

Auliya menilai fenomena panic buying di Aceh tidak bisa dilepaskan dari pengalaman krisis energi yang pernah dirasakan masyarakat sebelumnya.

“Masyarakat Aceh baru saja mengalami kondisi sulit akibat terganggunya pasokan energi ketika bencana banjir melanda wilayah Sumatera pada Desember lalu,” jelas Auliya, yang saat ini tengah menempuh studi Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Saat itu, kata dia, akses distribusi BBM sempat terputus sehingga masyarakat kesulitan memperoleh bahan bakar dan gas untuk kebutuhan sehari-hari.

“Masyarakat Aceh tentunya masih trauma dengan kondisi gelap dan mencekam, tanpa adanya persediaan minyak dan gas untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari,” ujarnya.

Selain faktor trauma krisis energi, Auliya juga menilai fenomena panic buying mencerminkan tingkat kepercayaan publik terhadap kesiapan pemerintah pusat dalam menjamin ketersediaan BBM.

Meski Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan cadangan minyak nasional masih aman setidaknya untuk 25 hari ke depan, ia menilai sebagian masyarakat Aceh masih bersikap skeptis terhadap pernyataan tersebut.

Ia menyinggung pengalaman saat bencana banjir sebelumnya, ketika pemerintah pusat menjanjikan pemulihan pasokan listrik dan BBM dalam waktu cepat.

“Namun masyarakat Aceh sudah terlanjur skeptis dengan ‘omon-omon’ Pemerintah Pusat,” katanya.

Auliya berharap pemerintah dapat memastikan stabilitas pasokan energi, terutama bagi Aceh yang hingga kini masih berada dalam tahap pemulihan pascabencana banjir Aceh–Sumatera.

Ia menegaskan kepastian ketersediaan BBM sangat penting bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di daerah tersebut. (XRQ)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News