NUKILAN.ID | MEUREUDU — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, para penyintas banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, terus berjuang menata kembali kehidupan mereka di tengah sisa lumpur bencana yang belum sepenuhnya pulih. Ketabahan warga terlihat dari upaya mandiri membangun kembali tempat tinggal, sekaligus mempersiapkan ibadah di bulan penuh berkah.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir November 2025 meninggalkan kerusakan luas di 18 kabupaten dan kota. Hingga kini, deru alat berat masih terdengar di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, membersihkan endapan lumpur yang mengering di kawasan permukiman warga.
Salah seorang penyintas, Mariati (51), menjadi saksi beratnya dampak bencana tersebut. Rumahnya tertimbun lumpur setinggi sekitar 2,5 meter hingga tidak lagi layak dihuni. Meski lebih dari dua bulan telah berlalu, proses pemulihan di wilayah daerah aliran Sungai Meureudu masih berlangsung perlahan.
Kerinduan memiliki rumah yang layak sekaligus keinginan menyambut Ramadhan menjadi dorongan kuat bagi warga untuk bangkit dari keterpurukan.
Membangun Rumah di Atas Sisa Lumpur
Setelah sempat mengungsi di gedung serbaguna Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Mariati bersama suaminya, Teuku Muzafar Syah, memutuskan kembali ke lahan rumah mereka di Desa Manyang Cut.
Dengan memanfaatkan material bekas yang masih tersisa, keduanya membangun rumah semipermanen di bagian loteng rumah lama yang tertimbun lumpur. Pembangunan dilakukan secara swadaya tanpa bantuan pemerintah, dengan mengandalkan kayu dan seng bekas.
Rumah panggung sederhana itu diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu melalui gotong royong keluarga. Meski jauh dari kata ideal, bangunan tersebut kini menjadi tempat berlindung mereka menjelang Ramadhan.
Rumah darurat itu telah dilengkapi kasur, peralatan memasak, serta kulkas yang kembali berfungsi setelah aliran listrik PLN pulih. Namun, Mariati masih berharap adanya bantuan pemerintah untuk perbaikan rumah yang lebih layak karena tempat tinggal sementara tersebut belum memiliki toilet maupun akses air bersih.
Ancaman Banjir Susulan Masih Menghantui
Kondisi Sungai Meureudu yang kini lebih lebar tetapi dangkal membuat kawasan permukiman di sekitarnya tetap rentan terhadap banjir susulan. Permukaan sungai yang hampir sejajar dengan permukiman menyebabkan air mudah meluap saat hujan turun.
Ketua posko pengungsian darurat Desa Manyang Cut, Teuku Nazarudin, menghadapi persoalan serupa. Rumahnya masih terhimpit lumpur dan sulit dibersihkan, sehingga ia menilai satu-satunya solusi adalah membongkar bangunan lama dan meninggikan rumah di atas endapan lumpur yang telah mengeras.
Trauma akibat banjir bandang pada malam 25 November 2025 juga masih membekas di benak warga. Mariati mengaku kerap terbangun dari tidur karena teringat peristiwa banjir besar yang terjadi malam itu.
Gotong Royong Bangun Meunasah Darurat
Di tengah keterbatasan, semangat kebersamaan warga tetap terjaga. Mereka bergotong royong membangun meunasah darurat agar masyarakat dapat menjalankan ibadah selama Ramadhan.
Pembangunan fasilitas ibadah ini difasilitasi Kementerian Agama bersama Baznas setelah warga mengajukan permintaan karena bangunan meunasah lama sulit diselamatkan dari timbunan lumpur.
Meunasah berukuran 14 x 10 meter tersebut dibangun dengan rangka baja, lantai panggung, serta dinding semipermanen setinggi 1,2 meter. Lokasinya berada di atas endapan lumpur setebal sekitar 2,5 meter di kawasan sebelum Jembatan Meureudu, di tepi jalan lintas nasional Banda Aceh–Medan.
Selain rumah ibadah, pemerintah juga membangun sumur bor melalui Kementerian ESDM serta fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang disediakan oleh perusahaan konstruksi BUMN. Fasilitas tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat, termasuk relawan dan warga nonmuslim yang datang membawa bantuan.
Meski pembangunan belum sepenuhnya rampung, meunasah darurat itu telah digunakan warga untuk beribadah pada malam nifsu syaban awal Februari lalu. Warga berharap fasilitas tersebut sudah dapat dimanfaatkan secara penuh ketika Ramadhan tiba.
Di tengah keterbatasan dan trauma bencana, semangat untuk bangkit tetap menjadi kekuatan utama masyarakat Pidie Jaya dalam menyongsong Ramadhan dengan harapan baru.


