Sunday, July 14, 2024

Kasus Kekerasan Seksual Anak di Aceh Selatan Meningkat, Aktivis Desak Tindakan Tegas

NUKILAN.id | Tapaktuan – Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Kabupaten Aceh Selatan mengalami peningkatan yang signifikan, memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Salsa, seorang aktivis perempuan dan anak di Aceh Selatan, menyampaikan kecaman tegas terhadap pelaku dan mendesak penanganan serius atas kasus ini.

Salsa mengungkapkan keprihatinannya terhadap meningkatnya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak. Ia menekankan bahwa pelaku harus diberikan sanksi tegas tanpa ada toleransi atau upaya perdamaian, mengingat ini merupakan tindakan kriminal berat.

“Kita berharap pelaku ditindak tegas dan kasusnya ditangani sampai tuntas. Tidak boleh ada perdamaian karena ini merupakan kriminal berat,” tegas Salsa saat dihubungi Nukilan.id melalui sambungan telepon pada Kamis (13/6/2024).

Lebih lanjut, Salsa mengkritik Pemerintah Daerah, khususnya Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB), yang dianggapnya kurang responsif dalam menangani permasalahan ini. Ia menekankan pentingnya BP3AKB untuk lebih jeli dalam melihat akar permasalahan dan tidak sekadar berdalih dengan alasan keterbatasan anggaran.

“BP3AKB harus jeli melihat apa permasalahan dan kenapa kasus ini meningkat. Tidak boleh hanya beralasan tidak adanya anggaran, itu sama saja dengan omong-omong. Sebagai pejabat, kalimat itu tidak boleh diucapkan,” kritik Salsa.

Ia menambahkan bahwa BP3AKB sebagai leading sector dalam perlindungan anak seharusnya dapat merancang program yang jelas dan sesuai kebutuhan saat pengajuan anggaran. Salsa yakin bahwa jika programnya jelas, pasti akan mendapatkan dukungan.

“Jika programnya jelas dan sesuai kebutuhan, tidak mungkin tidak ditampung. Program perlindungan anak adalah program nasional,” jelasnya.

Menurut Salsa, penyebab kekerasan seksual terhadap anak bukan hanya bahaya dari penggunaan ponsel, tetapi juga faktor sosial ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi dan edukasi perlindungan anak dan perempuan secara rutin untuk meningkatkan kepedulian orang tua dan masyarakat.

“Kita lihat banyak kasus terjadi di kalangan ekonomi menengah ke bawah. Kesibukan orang tua dalam pekerjaan sehingga kurangnya kontrol terhadap anak juga menjadi faktor,” ujarnya.

Salsa juga menyayangkan pernyataan Kepala BP3AKB yang menyebutkan tidak ada anggaran untuk menangani kasus ini, sebagaimana yang diungkapkan dalam salah satu media online.

“Jika ini menjadi program prioritas di dinas tersebut, kami sebagai Anggota DPRK Aceh Selatan sangat mendukung penuh program tersebut. Mestinya memang menjadi program prioritas, apalagi kasusnya sangat meningkat di Aceh Selatan,” pungkasnya.

Dengan meningkatnya kasus ini, diharapkan Pemerintah Daerah dan BP3AKB dapat lebih serius dalam menangani dan mencegah kekerasan seksual terhadap anak demi melindungi masa depan generasi muda di Aceh Selatan.

Reporter: Akil Rahmatillah

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img