Kala Prabowo, Jokowi, dan Semangkuk Bakmi Membungkam Nyinyiran Amien Rais

Share

NUKILAN.ID | OPINI – Di tengah transisi politik nasional yang penuh harap, muncul kembali suara-suara sumbang dari masa lalu. Amien Rais, tokoh reformasi yang dulu dielu-elukan sebagai pelopor demokrasi, kembali melancarkan kritik pedas kepada Presiden Joko Widodo melalui akun media sosialnya. Ia menyebut bahwa Jokowi sedang dililit 13 persoalan berat, mulai dari isu ijazah hingga soal menteri penjilat. Namun, alih-alih menyuguhkan kritik yang bernas, pernyataan Amien lebih menyerupai keluhan pribadi yang sarat tuduhan dan nyinyiran.

Salah satu yang paling menonjol adalah sindiran bahwa Jokowi ciut nyali karena belum dijenguk oleh Presiden Prabowo Subianto. Ironisnya, pernyataan itu dengan cepat terbantahkan. Sehari sebelum unggahan Amien viral, Prabowo sudah lebih dulu berkunjung ke kediaman Jokowi di Solo. Momen keakraban mereka yang terekam dalam sejumlah foto—duduk berdampingan, tertawa, dan menyantap semangkuk bakmi—menjadi simbol kuat bahwa hubungan keduanya justru sedang berada dalam fase saling hormat dan penuh kedewasaan.

Apa yang dilakukan Prabowo tidak hanya membantah narasi negatif, tapi juga menunjukkan etika politik yang langka: menjalin komunikasi di atas perbedaan, bukan memupuk kebencian demi sorotan publik. Dalam konteks politik Indonesia yang rentan konflik, tindakan seperti ini adalah oase. Prabowo tidak memilih konfrontasi, tetapi konsolidasi. Ia tak menjawab nyinyiran Amien dengan amarah, melainkan dengan sikap tenang dan santun. Cukup semangkuk mie dan tawa hangat untuk membungkam provokasi politik yang mulai kehilangan pendengarnya.

Sikap Amien Rais patut dipertanyakan. Kritik memang perlu dalam demokrasi. Tapi ketika kritik kehilangan dasar, menjadi sekadar tuduhan tanpa data, ia berubah menjadi retorika kosong. Demokrasi tak akan tumbuh dari tuduhan, melainkan dari diskursus. Kritik yang konstruktif memerlukan nalar, bukan sekadar amarah atau nostalgia akan masa kejayaan.

Publik pun sudah mulai jenuh. Dalam satu dekade terakhir, Amien selalu muncul sebagai pengkritik garis keras—bukan hanya terhadap Jokowi, tapi juga terhadap siapa pun yang tidak sejalan dengannya. Setelah tersingkir dari PAN, ia mendirikan Partai Umat sebagai saluran baru bagi “aspirasi umat”. Namun, alih-alih tumbuh sebagai kekuatan politik segar, partai tersebut tampak kurus kering dan gagal menarik dukungan signifikan, bahkan dari basis yang selama ini lekat dengannya.

Partai Umat hanya menjadi gema dari suara lama yang penuh amarah. Tidak ada ide baru, tidak ada terobosan. Yang tersisa hanyalah keinginan mempertahankan relevansi dengan cara usang: provokasi, tuduhan, dan retorika murahan. Bahkan pertemuan Amien dengan Prabowo pun harus ditempuh dengan cara mencegatnya di sebuah acara pernikahan. Ini bukan sekadar soal taktik politik, tapi juga potret keterasingan seorang tokoh yang pernah berada di pusat kuasa, kini berusaha mencari panggung yang semakin menyempit.

Dalam salah satu pidatonya, almarhum Gus Dur pernah mengingatkan bahwa politik yang norak, penuh kebencian dan manipulasi, hanya akan melahirkan “gelandangan politik seumur hidup”. Kata-kata itu kini terdengar seperti nubuat. Nama memang bisa besar dalam sejarah, tapi relevansi harus dirawat setiap hari. Jika tidak, waktu akan berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Sikap Prabowo yang tetap menghormati Jokowi adalah simbol politik matang. Ia menegaskan, “Saya ini Presiden Republik Indonesia. Kalau saya datang ke rumah Presiden ketujuh, itu bukan karena tekanan siapa-siapa. Itu karena saya menghormati beliau.” Sebuah kalimat yang sarat makna dan peringatan halus bagi mereka yang terus mencoba mengadu domba.

Demokrasi yang sehat bukan hanya tentang adanya oposisi, melainkan oposisi yang memiliki gagasan. Kita membutuhkan oposisi yang mampu memberikan alternatif kebijakan, bukan sekadar pengulangan kebencian personal. Sayangnya, Amien Rais lebih memilih menjadi simbol oposisi nyinyir daripada menjadi penyeimbang yang mencerdaskan.

Masyarakat sudah semakin dewasa dalam menyikapi dinamika politik. Tuduhan-tuduhan kosong tanpa bukti kini mudah dibantah oleh informasi yang cepat menyebar. Politik yang dibangun di atas gosip dan provokasi tak lagi laku di era digital yang mengedepankan transparansi. Kecuali bagi mereka yang memang ingin terus hidup dari riuh rendah kebencian.

Akhirnya, kita perlu bertanya: apakah kita masih membutuhkan gaya politik seperti Amien Rais? Atau, sudah saatnya kita mendorong lahirnya suara-suara baru—yang jernih, substansial, dan mampu merawat demokrasi tanpa harus menyulut api permusuhan?

Mungkin, benar bahwa semangkuk bakmi bisa lebih berguna bagi stabilitas politik negeri ini ketimbang seribu kata nyinyir yang tak jelas arahnya. (XRQ)

Penulis: Akil

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News