Kakao Aceh Mendunia, PT Kudeungoe Sugata Sabet Gold Award CoEx 2025 di Amsterdam

Share

NUKILAN.ID | Amsterdam — Perusahaan kakao asal Aceh, PT Kudeungoe Sugata, berhasil meraih penghargaan tertinggi Gold Award dalam ajang internasional Cacao of Excellence (CoEx) 2025 yang diumumkan pada 20 Februari 2026 di Amsterdam, Belanda. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Amsterdam Cocoa Week dan Chocoa Trade Fair, forum industri kakao dan cokelat premium tingkat dunia.

Direktur PT Kudeungoe Sugata, Mirza Ali Murtala, menyebut penghargaan ini sebagai pengakuan global terhadap kualitas biji kakao fermentasi yang diproduksi bersama para petani binaan di Aceh.

“Cacao of Excellence adalah ajang bergengsi yang menilai kakao terbaik dunia berdasarkan kualitas rasa dan karakter aromanya. Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi platform untuk menghubungkan petani dengan industri cokelat premium internasional,” kata Mirza dalam keterangan, Sabtu (21/02/2026).

Program Cacao of Excellence merupakan inisiatif internasional yang dikelola oleh Alliance of Bioversity International and CIAT. Program ini bertujuan mengidentifikasi sekaligus mempromosikan biji kakao unggulan dari berbagai negara produsen, serta mendorong praktik budidaya kakao yang berkelanjutan.

Pada proses seleksi CoEx 2025, sebanyak 191 sampel kakao dari 45 negara dinilai secara blind test oleh panel ahli internasional. Dari seluruh peserta, hanya 50 sampel terbaik yang masuk kategori Best 50. Sampel tersebut kemudian diolah menjadi cokelat standar sebelum kembali dinilai untuk menentukan peraih medali Gold, Silver, dan Bronze.

Mirza menjelaskan, capaian Gold Award tidak terlepas dari pendampingan intensif terhadap petani kakao di wilayah Aceh Tenggara dan Gayo Lues. Perusahaan berfokus pada produksi biji kakao fermentasi berkualitas tinggi yang menyasar pasar bean-to-bar di Indonesia.

“Kami melakukan pendampingan teknis mulai dari budidaya hingga fermentasi. Kakao Aceh sebenarnya memiliki potensi rasa yang sangat baik jika diproses dengan benar. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa kualitas itu diakui dunia,” ujarnya.

Ia menambahkan, potensi produksi kakao Aceh diperkirakan mencapai 35 ribu hingga 40 ribu ton per tahun. Namun, pengembangan sektor tersebut dinilai membutuhkan strategi yang lebih terarah, terutama dalam penentuan wilayah budidaya yang sesuai secara agroklimat.

“Jangan sampai daerah yang cocok untuk kakao justru dialihkan ke komoditas lain. Kakao berkualitas itu jumlahnya sedikit, tetapi peminatnya sangat banyak, terutama di Eropa,” kata dia.

Menurut Mirza, identifikasi wilayah unggulan serta pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar kakao Aceh mampu bersaing di pasar global sebagai produk premium Indonesia.

“Ada beberapa tantangan teknis, tetapi itu bisa diatasi dengan pelatihan dan konsistensi. Kalau dikelola serius, kakao Aceh bisa menjadi kebanggaan nasional,” ujarnya.

Penghargaan ini sekaligus menempatkan PT Kudeungoe Sugata sebagai salah satu produsen kakao fermentasi Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional serta memperkuat posisi Aceh sebagai daerah penghasil kakao berkualitas dunia. (XRQ)

spot_img
spot_img

Read more

Local News