NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Jumlah perokok dewasa di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2026, kondisi ini kembali menjadi perhatian karena mencerminkan masih besarnya tantangan pengendalian konsumsi tembakau di Indonesia.
Dilansir Nukilan.id dari keterangan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia bertambah sekitar 8,8 juta orang selama satu dekade terakhir.
Data tersebut mengacu pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 yang kembali dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Kementerian Kesehatan pada tahun 2024.
Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 34,5 persen penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat prevalensi merokok tertinggi di dunia.
Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini mengangkat tema global “Unmasking the Appeal – Countering Nicotine and Tobacco Addiction” atau mengungkap daya tarik semu dan melawan kecanduan nikotin serta tembakau.
Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang masih menghadapi tingginya konsumsi produk tembakau, baik berupa rokok konvensional maupun rokok elektronik.
Menurut Komnas PT, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi ini berbeda dengan banyak negara lain yang justru berhasil menurunkan angka konsumsi tembakau.
Permasalahan merokok tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi perokok anak usia 10 hingga 18 tahun masih mencapai 7,4 persen.
Meskipun secara persentase angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan hasil Riskesdas 2018, jumlah perokok anak secara keseluruhan masih mengalami peningkatan karena pertumbuhan populasi. Selain itu, angka tersebut juga belum mencapai target nasional yang ditetapkan sebesar 5,4 persen.
Selain rokok konvensional, penggunaan rokok elektronik atau vape juga mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Komnas PT mencatat prevalensi penggunaan vape meningkat hingga sepuluh kali lipat, dari 0,3 persen pada tahun 2011 menjadi 3 persen pada tahun 2021.
Peningkatan penggunaan vape menunjukkan bahwa tantangan pengendalian tembakau saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan rokok konvensional, tetapi juga berbagai produk berbasis nikotin lainnya yang semakin banyak digunakan oleh masyarakat.
Tingginya jumlah perokok turut berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Data dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa tembakau telah naik dari faktor risiko utama penyebab Disability Adjusted Life Years (DALYs) peringkat kelima pada tahun 1990 menjadi peringkat kedua pada tahun 2021.
Berbagai penyakit yang sering dikaitkan dengan konsumsi tembakau antara lain penyakit jantung iskemik, stroke, kanker paru, kanker payudara, serta diabetes. Sementara itu, Tobacco Atlas 2025 memperkirakan sekitar 295.000 kematian setiap tahun di Indonesia berhubungan dengan konsumsi tembakau.
Selain dampak kesehatan, kerugian ekonomi akibat penyakit terkait rokok juga sangat besar. Nilainya diperkirakan mencapai lebih dari Rp288 triliun setiap tahun.
Komnas PT menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa upaya pengendalian konsumsi rokok masih merupakan pekerjaan besar yang harus terus dilakukan.
Melalui momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026, seluruh pihak diharapkan dapat memperkuat edukasi, pencegahan, dan berbagai langkah pengendalian lainnya agar beban kesehatan maupun ekonomi akibat tembakau dapat ditekan. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News


