Harimau Sumatra Kembali Mangsa Ternak di Aceh Tengah, Warga Keluhkan Respons BKSDA

Share

NUKILAN.ID | Takengon – Konflik antara harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) dan warga kembali terjadi di Desa Serule, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. Seekor ternak milik warga ditemukan mati diduga diterkam harimau di kawasan jalan penghubung Desa Serule dan Desa Atu Payung, Rabu (5/8/2026).

Korban terbaru tersebut merupakan seekor lembu yang ditemukan dalam kondisi mati dengan luka pada bagian leher dan kaki depannya tampak hilang. Dokumentasi yang diterima menunjukkan bangkai ternak tergeletak di semak-semak di lokasi kejadian. Menurut warga, lokasi penemuan hanya berjarak sekitar 300 meter dari permukiman Desa Serule dan sekitar 300 meter dari Desa Atu Payung.

Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, mengatakan peristiwa terbaru itu menambah daftar serangan yang diduga dilakukan harimau terhadap ternak warga dalam beberapa pekan terakhir.

“Ini sudah yang keenam kali. Lokasi kejadian sekitar 300 meter dari Desa Serule dan 300 meter dari Desa Atu Payung. Sebelumnya sudah ada enam ekor lembu milik warga yang hilang,” kata Wedy kepada Nukilan, Kamis (6/8/2026).

Menurut Wedy, konflik satwa liar tersebut tidak hanya mengakibatkan kerugian ekonomi akibat hilangnya ternak, tetapi juga memicu kekhawatiran warga yang setiap hari bekerja di kawasan hutan, terutama para penyadap getah.

Ia mengungkapkan, sehari sebelum kejadian terbaru, sejumlah warga yang sedang mengambil getah berpapasan dengan seekor harimau pada jarak sekitar 50 meter. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

“Karena masyarakat banyak mengambil getah di hutan, kemarin mereka bertemu langsung dengan harimau sekitar 50 meter. Kami langsung melapor ke BKSDA,” ujarnya.

Wedy menjelaskan, sebelumnya Reje Desa Serule telah berkonsultasi dengan pihak relawan mengenai kemunculan harimau. Relawan kemudian mengarahkan pemerintah desa untuk menyampaikan laporan kepada BKSDA Aceh.

Menurutnya, petugas BKSDA baru mendatangi lokasi sekitar tiga minggu setelah laporan awal diterima. Namun, petugas hanya berada di lokasi selama satu malam sebelum kembali tanpa tindak lanjut yang diketahui masyarakat.

“Sebelumnya Reje Desa Serule sudah berkonsultasi kepada kami, lalu kami arahkan ke BKSDA. Sekitar tiga minggu setelah kejadian mereka datang, menginap semalam, kemudian pulang dan sampai sekarang tidak ada kabar lagi,” kata Wedy.

Ia juga mengaku kecewa terhadap respons yang diterima saat kembali melaporkan kemunculan harimau. Menurutnya, petugas meminta warga mengambil petasan ke Takengon untuk menghalau satwa apabila kembali muncul.

“Saat kami melapor, kami diminta mengambil petasan ke Takengon. Katanya kalau bertemu harimau, petasan itu dinyalakan. Kami meminta petugas saja yang datang ke lokasi, tetapi tak ada respons lagi,” ujarnya.

Warga berharap BKSDA Aceh segera mengambil langkah penanganan yang lebih konkret guna mencegah konflik satwa liar terus berulang, sekaligus menjamin keselamatan masyarakat dan menjaga kelestarian harimau sumatra yang merupakan satwa dilindungi. []

Reporter: Sammy

Read more

Local News