Harga Minyak Nilam Aceh Melonjak hingga Rp850 Ribu per Kg, Usulan Masuk RPJM Menguat

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kenaikan signifikan harga minyak nilam asal Aceh dalam dua tahun terakhir mendorong perlunya penguatan kebijakan pembangunan jangka menengah agar pengembangan komoditas ini berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. Di tengah tren harga yang terus meningkat serta meluasnya wilayah produksi, industri nilam beserta produk turunannya dinilai layak dimasukkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).

Kepala Atsiri Research Center (ARC), Syaifullah Muhammad, mengatakan integrasi nilam ke dalam RPJM menjadi langkah penting untuk memastikan program pengembangan tetap berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan daerah.

Menurutnya, kebijakan tersebut juga sejalan dengan visi Pemerintah Kota Banda Aceh yang ingin mengembangkan wilayahnya sebagai “Kota Parfum”.

“Kalau sudah masuk RPJM, itu jadi amanah pembangunan. Siapapun kepala daerahnya, program tetap berjalan,” ujarnya di Universitas Syiah Kuala, Kamis (26/2/2026).

Dari sisi harga, minyak nilam Aceh mengalami lonjakan tajam. Jika sebelumnya hanya berada pada kisaran Rp350.000 hingga Rp400.000 per kilogram, kini harganya telah mencapai Rp850.000 per kilogram.

Bahkan, menjelang akhir tahun harga diperkirakan masih berpotensi meningkat hingga berada di kisaran Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per kilogram, mengikuti pola musiman serta tingginya permintaan industri global.

Semangat Petani Kembali Tumbuh

Kenaikan harga tersebut turut berdampak pada meningkatnya minat petani untuk kembali membudidayakan nilam. Jika sebelumnya sentra produksi hanya tersebar di empat kabupaten di Aceh, kini budidaya tanaman tersebut telah berkembang hingga di 18 kabupaten.

“Artinya ada optimisme baru di tingkat petani. Ekosistemnya kembali tumbuh,” kata Syaifullah.

Dari segi pangsa pasar nasional, Aceh kembali menempati posisi teratas dengan kontribusi sekitar 19 persen terhadap produksi minyak nilam nasional. Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode sebelumnya ketika kontribusi Aceh sempat turun hingga sekitar 5 persen.

Meskipun demikian, capaian tersebut masih belum menyamai masa kejayaan ketika Aceh pernah menguasai sekitar 70 persen pangsa pasar nasional minyak nilam.

Produksi Nasional Kian Merata

Saat ini produksi nilam tidak lagi terpusat di satu wilayah. Sejumlah provinsi lain seperti Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur mulai berkembang sebagai sentra produksi baru. Di Pulau Sulawesi, budidaya nilam juga tumbuh di Sulawesi Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Dengan penyebaran tersebut, komposisi produksi nasional menjadi lebih merata. Beberapa daerah lain kini memiliki kontribusi produksi yang relatif berdekatan, yakni berada di kisaran 16–18 persen berdasarkan data statistik produksi terbaru.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News