Saturday, January 28, 2023

Harga Batu Bara Naik Menjadi US$ 188,38 Per Ton

Nukilan.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat lopnjakan harga batu bara acuan (HBA) sebesar US$ 29,88 per ton menjadi US$ 188,38 per ton pada Februari 2022 ini, dari Januari 2022 yang mencapai US$ 158,50 per ton.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi dan Kerjasama, Agung Pribadi menyampaikan bahwa melonjaknya harga batu bara acuan itu salah satunya dipicu meningkatnya permintaan global atas kebutuhan batu bara.

“Kenaikan HBA bulan Februari 2022 disebabkan oleh tingginya permintaan komoditas batu bara global,” kata Agung, Selasa (8/2/2022).

Adapun faktor lain yang mempengaruhi kenaikan HBA adalah adanya kendala pasokan gas alam di Eropa. Yang memang, sebagian besar negara-negara Eropa beralih ke batu bara demi memenuhi pembangkit listrik.

Dorongan angka HBA juga tak lepas dari keputusan Pemerintah Indonesia yang sempat menjalankan kebijakan larangan ekspor per 1 Januari 2022 untuk mengatasi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah sendiri akhirnya mencabut larangan tersebut bagi perusahaan yang tercatat sudah mematuhi ketentuan DMO pada 31 Januari 2022 lalu.

HBA sendiri merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Global Coal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.

Nantinya, harga ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batubara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Terdapat dua faktor turunan yang mempengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan suplai dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Sumber: CNBCIndonesia

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img