Haji Uma Raih Gelar Magister, Tesisnya Bahas Dominasi Politik Partai Aceh di Pilkada Aceh Utara 2024

Share

NUKILAN.ID | JAKARTA — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Sudirman atau yang dikenal sebagai Haji Uma, resmi meraih gelar Magister Ilmu Politik dari Universitas Nasional (UNAS). Ia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan setelah mempertahankan tesis yang mengkaji dinamika dominasi politik di tingkat lokal.

Dalam tesis berjudul “Hegemoni Politik Partai Aceh dalam Proses Pencalonan Tunggal pada Pilkada Kabupaten Aceh Utara Tahun 2024”, Haji Uma meneliti peran Partai Aceh dalam munculnya calon tunggal pada Pilkada Aceh Utara 2024. Penelitian tersebut menggunakan teori hegemoni dari Antonio Gramsci untuk menganalisis relasi kekuasaan antara elite partai dan aktor politik lokal.

Ketua sidang, Dr M Alfan Alfian, menilai tema penelitian tersebut relevan dengan perkembangan demokrasi lokal di Aceh.

“Kajian ini penting untuk melihat bagaimana konfigurasi kekuasaan terbentuk dalam konteks politik daerah,” ujarnya dalam sidang tesis.

Tim penguji yang terdiri atas Prof Ganjar Razuni, Dr TB Massa Djafar, serta Dr Sahruddin selaku pembimbing, turut menyoroti penggunaan teori hegemoni sebagai pendekatan utama dalam penelitian. Menurut mereka, kerangka analisis tersebut mampu menjelaskan bahwa dominasi politik tidak selalu muncul melalui tekanan terbuka, tetapi juga terbentuk melalui konsensus dan legitimasi sosial.

Dalam pemaparannya, Haji Uma menjelaskan bahwa hegemoni politik dapat tumbuh melalui jaringan elite, kesepahaman politik, serta penerimaan publik.

“Hegemoni tidak selalu hadir dalam bentuk tekanan terbuka, tetapi bisa tumbuh melalui kesepahaman yang dibangun secara sistematis di ruang-ruang politik,” kata anggota DPD RI dari Aceh itu.

Ia menyimpulkan bahwa dominasi politik yang kuat berpotensi memengaruhi kualitas kompetisi demokrasi, terutama ketika kontestasi hanya diikuti calon tunggal yang berhadapan dengan kotak kosong. Menurutnya, fenomena tersebut penting dikaji secara akademik agar demokrasi tetap memberi ruang partisipasi yang setara bagi seluruh elemen masyarakat.

Haji Uma berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan dalam pengembangan studi politik lokal di Aceh.

“Sebagai pelaku politik, saya meyakini politik tanpa hati adalah kejam, dan politik tanpa pengetahuan dapat menjadi bentuk penindasan. Pendidikan adalah bagian dari tanggung jawab pengabdian,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan untuk memperkaya diskursus demokrasi daerah.

“Kontestasi yang sehat membutuhkan keterbukaan, kompetisi yang adil, dan kesadaran kolektif untuk menjaga kualitas demokrasi,” kata dia.

Sebagai informasi, Haji Uma lahir di Lhokseumawe pada 10 November 1974 dan telah menjabat sebagai anggota DPD RI asal Aceh sejak 2014 hingga sekarang. Ia bergelar S.Sos dan dikenal luas di masyarakat Aceh sebagai sosok dermawan yang aktif membantu korban musibah serta warga Aceh di perantauan, termasuk tenaga kerja Indonesia di Malaysia.

Ia menikah dengan Nurhasanah dan dikaruniai enam anak, yakni Alfa Khalil Ikram, Khalisna Maulida, Fatih Al Mubarak, Amar Al Khalid, Faiz Maulana, dan Azam.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News